Gunung Ibu yang berdiri setinggi 2.125 meter di atas permukaan laut di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, kembali menunjukkan gejolak vulkanik. Pada Rabu dini hari, 20 Juni 2026, pukul 00.49 WIT, gunung api ini melontarkan abu tebal ke angkasa. Rentetan aktivitas ini memicu perhatian publik mengenai bagaimana sebenarnya status aktivitas vulkanik Gunung Ibu Halmahera PVMBG saat ini dan langkah mitigasi apa saja yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.
Secara geologis, Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik yang merupakan titik temu dari tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Letak geografis ini membuat wilayah kepulauan Indonesia memiliki banyak gunung api aktif, termasuk Gunung Ibu. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, gunung ini berulang kali mengalami erupsi. Sebagai contoh, dalam kurun waktu satu pekan yang mengarah ke Minggu malam tanggal 22 Maret 2026, gunung ini tercatat telah mengalami 29 kali erupsi. Suplai magma yang terus aktif di bawah permukaan menjadi pendorong utama terjadinya letusan yang beruntun ini.
Gempa NTT, Kemenkes Targetkan Satu Minggu Layanan RS Pulih

Dampak dari erupsi ini terlihat dari sebaran kolom abu yang bervariasi pada setiap kejadian. Pada letusan tanggal 22 Maret 2026 pukul 13.13 WIT, kolom abu teramati setinggi kurang lebih 600 meter di atas puncak, atau sekitar 1.925 meter di atas permukaan laut dengan warna kelabu intensitas sedang condong ke tenggara. Selanjutnya, letusan pada Selasa pagi, 19 Mei 2026 pukul 09.24 WIT menghasilkan kolom abu yang lebih tinggi, yakni mencapai sekitar 800 meter di atas puncak dengan arah condong ke barat laut. Sementara pada letusan terbaru tanggal 20 Juni 2026, tinggi kolom abu terpantau kurang lebih 400 meter di atas puncak dengan arah condong ke timur laut. Seismogram merekam amplitudo maksimum sebesar 28 milimeter pada ketiga letusan tersebut, namun dengan durasi yang berbeda-beda, mulai dari puluhan detik hingga lebih dari empat menit.
Meskipun rangkaian letusan terus terjadi, tingkat aktivitas gunung api ini masih dipertahankan pada Status Level II (Waspada). Meski demikian, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah antisipatif dengan memperluas jarak aman sektoral. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan bahwa jarak aman kini diperluas sejauh 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah aktif di bagian utara untuk meminimalkan risiko bagi warga.
Eks Ketua RW Dipolisikan Terkait Dugaan Penggelapan Kas Rp 11 Miliar

Sebagai langkah penanganan ke depan, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat setempat, pengunjung, maupun wisatawan mematuhi batas zona aman dan tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan segera menggunakan masker penutup hidung dan mulut serta kacamata guna menghindari bahaya hujan abu yang dapat memicu gangguan pernapasan dan iritasi mata. Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat juga diminta meningkatkan koordinasi dengan pihak PVMBG atau Pos Pengamatan Gunung Ibu di Desa Gam Ici. Untuk mendapatkan informasi terkini yang valid, masyarakat Pulau Halmahera diimbau memantau perkembangan melalui aplikasi Magma Indonesia serta tidak mudah memercayai atau menyebarkan narasi bohong terkait aktivitas gunung tersebut.






