Upaya transisi energi di Indonesia terus didorong, salah satunya melalui pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku substitusi batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah ini menjadi krusial mengingat sekitar 90 persen pembangkit listrik nasional di Indonesia saat ini masih bergantung pada energi fosil. Keberhasilan program substitusi atau co-firing ini sangat dipengaruhi oleh kesiapan pasokan serta integrasi ekosistem dari hulu hingga ke hilir.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjadi salah satu aktor utama dalam mengelola rantai pasok ini. Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa seluruh biomassa yang dikelola oleh PLN EPI bersumber dari residu industri kehutanan, perkebunan, serta pertanian. Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap. Selama periode kumulatif tahun 2023 hingga 2026, PLN EPI mencatat telah merealisasikan penyediaan biomassa sebanyak 4,77 juta ton. Dari total pasokan tersebut, porsi terbesar didominasi oleh produk berbasis kayu, dengan rincian sawdust atau serbuk gergaji sebesar 54,6 persen dan woodchip atau serpihan kayu sebesar 22,4 persen.








