Apakah Anda sering merasakan sensasi terbakar di dada atau rasa pahit di mulut saat sedang menghadapi tekanan pekerjaan atau masalah keluarga? Banyak orang mengira gangguan lambung hanya disebabkan oleh faktor makanan atau pola hidup yang tidak teratur. Padahal, kondisi psikologis seperti stres dan kecemasan juga memiliki kaitan erat dengan munculnya gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
GERD sendiri merupakan kondisi yang terjadi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Aliran balik ini dapat menimbulkan sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, hingga rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
Bagaimana Stres Memengaruhi Pencernaan?
Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan berada dalam kondisi siaga dan melepaskan hormon seperti kortisol serta adrenalin. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, pelepasan hormon stres tersebut dapat memengaruhi sistem pencernaan dan memperburuk keluhan pada lambung.
Salah satu pemicu stres yang kerap dialami adalah kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking. Dalam psikologi, kondisi ini didefinisikan sebagai kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, baik tentang masa lalu, masa depan, maupun masalah sehari-hari. Pikiran yang tidak tenang ini lambat laun dapat memicu reaksi fisik pada saluran pencernaan.
Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Lingkaran Setan Gejala Lambung dan Kecemasan
Hubungan antara pikiran dan lambung tidak berjalan satu arah. Gejala fisik akibat GERD juga dapat membuat penderitanya menjadi semakin cemas. Sebagai contoh, rasa nyeri atau panas di dada akibat naiknya asam lambung kerap membuat penderita khawatir bahwa mereka sedang mengalami masalah jantung.
Kecemasan ini sering kali diperparah oleh kebiasaan mencari informasi mengenai gejala penyakit di internet tanpa melakukan pemeriksaan medis. Kebiasaan mendiagnosis diri sendiri lewat pencarian daring ini justru dapat meningkatkan tingkat kecemasan, yang pada akhirnya kembali memperburuk gejala lambung.
Penanganan Medis yang Terintegrasi
Menangani GERD yang dipicu oleh faktor psikologis memerlukan perhatian khusus. Dalam artikel EMC Healthcare, dr. Eva Suryani, Sp.KJ dan dr. Dedy G. Sudrajat, Sp.PD, KGEH, FINASIM menjelaskan bahwa faktor fisik dan psikologis dapat muncul bersamaan pada pasien.
Cara Menggunakan dan Menginstal Snipping Tool di Windows 10 dan 11

Oleh karena itu, penanganan GERD terkadang membutuhkan pendekatan kombinasi yang menangani sisi penyakit dalam sekaligus kesehatan jiwa. Jika gejala GERD terus berulang meskipun pasien sudah mendapatkan pengobatan medis, faktor stres dan kecemasan patut dievaluasi lebih dalam.
Meskipun tidak semua kasus GERD disebabkan oleh pikiran, kondisi mental dapat menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk gejala. Dengan demikian, mengelola stres secara mandiri maupun dengan bantuan profesional menjadi bagian penting dari proses pemulihan bagi orang yang kerap mengalami gangguan asam lambung.






