Pengembangan teknologi transportasi udara ramah lingkungan di Indonesia memasuki babak baru. Sebanyak 50 helikopter bertenaga listrik atau electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) buatan dalam negeri kini tengah disiapkan untuk menjalani serangkaian uji coba dan pengembangan hingga tahun depan. Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama untuk 50 unit eVTOL Vela dalam ajang Indonesia International Transport Summit 2026 Hexia yang digelar di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Proses perakitan dan pembuatan puluhan helikopter listrik ini dipusatkan di fasilitas produksi milik PT Vela Prima Nusantara yang berlokasi di Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Direktur PT Vela Prima Nusantara, Kevin Phang, menjelaskan bahwa seluruh proses manufaktur dan perakitan pesawat ini dilakukan di dalam negeri dengan memanfaatkan teknologi domestik. Kendati demikian, sejumlah komponen penting pesawat memang masih harus diimpor dari luar negeri. Saat ini, pihak perusahaan telah berhasil merampungkan pembangunan satu unit prototipe awal.
Rektor Terjaring OTT KPK, Mahasiswa Unsoed Desak Evaluasi Sistem dan Transparansi Kampus

Untuk memastikan kelaikan terbangnya, prototipe helikopter listrik tersebut dijadwalkan masuk ke dalam proses sertifikasi bersama Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPU) Kementerian Perhubungan pada tahun depan. Kevin Phang menargetkan ada tiga prototipe yang nantinya akan diajukan untuk menjalani proses sertifikasi penuh. Tiga prototipe tersebut terdiri dari dua unit prototipe eVTOL murni dan satu unit prototipe VTOL dengan sistem penggerak hibrida (hybrid). Seluruh unit ini nantinya akan melalui tahap pengujian sandbox trial di bawah pengawasan regulator.
Dalam peta jalan bisnis jangka panjang, Founder Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, memaparkan target pengembangan hingga 200 unit eVTOL dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang. Rencana besar tersebut akan mengombinasikan armada dari berbagai negara, yang terdiri atas 120 unit asal China, 30 unit asal Jepang, serta 50 unit buatan Indonesia sendiri. Melalui pengembangan armada ini, Whitesky memproyeksikan bahwa ekosistem transportasi udara modern tersebut berpotensi mencapai nilai valuasi sebesar 1,2 miliar dolar AS pada tahun 2036.
Starlink Hentikan Pendaftaran Pengguna Baru di Indonesia karena Kapasitas Penuh

Dari sisi regulasi, Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Sokhib Al Rokhman, menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan landasan hukum untuk mendukung operasional armada udara masa depan ini. Kementerian Perhubungan saat ini sudah memiliki Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (CASR) Part 22 yang disahkan pada tahun 2023 untuk mengatur standar kelaikudaraan pesawat. Selain itu, pemerintah sedang merevisi CASR Part 61 guna mengatur lisensi pilot, termasuk aturan mengenai Remote Pilot License (RPL). Penggunaan ruang udara untuk operasional helikopter listrik ini juga telah diatur melalui PM 37 Tahun 2020, sementara aspek keamanan siber akan dikoordinasikan secara intensif dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).






