Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya meningkatkan pemahaman keuangan generasi muda di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu langkah nyata yang ditempuh adalah dengan mendorong pemanfaatan tabungan khusus bagi anak sekolah. Melalui program ini, OJK Dorong Rekening SimPel Jadi Latihan Mandiri Finansial Pelajar NTT agar mereka dapat mengenal produk perbankan sekaligus belajar mengelola uang secara bertanggung jawab.
Upaya edukasi ini mencapai puncaknya pada penyelenggaraan Hari Indonesia Menabung (HIM) Tingkat Provinsi NTT Tahun 2026. Acara puncak tersebut dilangsungkan pada Rabu, 19 Agustus 2026, bertempat di SMA Negeri 1 Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperluas akses perbankan bagi pelajar di wilayah kepulauan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan kolaborasi erat antara berbagai instansi terkait. Bank NTT bekerja sama dengan OJK Provinsi NTT dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk menyelenggarakan pembukaan rekening SimPel secara massal dan serentak. Gerakan ini dijalankan di bawah payung program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Melalui koordinasi yang terintegrasi, sebanyak 220.194 rekening SimPel berhasil dibuka secara serentak yang difasilitasi oleh 23 kantor cabang Bank NTT di seluruh wilayah NTT.
Pemerintah Akselerasi Implementasi IEU CEPA Mulai Awal Tahun Depan

Meskipun pembukaan rekening berskala besar ini menjadi pencapaian penting, efektivitas program menabung ini sangat bergantung pada konsistensi para siswa dan dukungan operasional dari perbankan. Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos, yang akrab dipanggil Sandi, membagikan pandangannya mengenai cara praktis melatih kedisiplinan keuangan pelajar. Sandi menyarankan agar para siswa dibimbing untuk menyisihkan sebagian kecil dari uang jajan harian mereka secara rutin. Sebagai contoh, dari uang jajan harian sebesar Rp5.000, siswa dapat diarahkan untuk menyisihkan antara Rp1.000 hingga Rp2.000 untuk ditabung ke dalam rekening SimPel mereka.
Di sisi lain, Sandi juga menyoroti pentingnya peran aktif dari lembaga jasa keuangan dalam menjaga keberlanjutan kebiasaan menabung ini. Ia menyarankan agar pihak perbankan menerapkan strategi jemput bola dengan menyediakan layanan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah setiap minggu. Layanan jemput bola ini bertujuan untuk mengumpulkan uang jajan yang telah disisihkan oleh para siswa secara berkala.
Asbanda Dorong Penguatan Peran BPD sebagai Pilar Pembangunan Daerah

Sandi mengingatkan bahwa tanpa adanya layanan penjemputan rutin dari bank, ada risiko para pelajar akan menyimpan uang tabungan mereka sendiri secara sembarangan atau menitipkannya kepada guru-guru di sekolah. Menurutnya, praktik menitipkan uang kepada guru atau menyimpannya sendiri tanpa sistem formal dapat memicu risiko administratif maupun keamanan yang tidak baik bagi ekosistem sekolah dan siswa itu sendiri. Oleh karena itu, sinergi antara edukasi di sekolah dan kemudahan akses penjemputan tabungan oleh pihak perbankan menjadi kunci keberhasilan program ini.






