Pemerintah terus memperkuat fondasi industri manufaktur dalam negeri melalui peresmian berbagai proyek strategis nasional. Langkah nyata ini ditandai dengan pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking oleh Presiden Prabowo Subianto untuk 13 proyek hilirisasi strategis nasional. Salah satu fokus utama dalam agenda besar ini adalah hilirisasi komoditas mineral tembaga dan emas yang berlokasi di Jawa Timur, tepatnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Proyek ini dikembangkan oleh MIND ID di dalam kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).
Dalam proyek di KEK Gresik ini, MIND ID akan membangun sejumlah fasilitas industri penting, meliputi pabrik kuningan (Brass Mill), Brass Cup, serta fasilitas manufaktur logam mulia yang berbasis lumpur anoda (anode slime). Melalui proses hilirisasi di JIIPE, pengolahan tembaga tidak hanya menghasilkan produk utama tetapi juga produk sampingan berupa lumpur anoda yang mengandung logam mulia seperti emas dan perak. Lumpur anoda ini kemudian diolah lebih lanjut di dalam negeri sebagai bahan baku pemurnian untuk menghasilkan emas murni. Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, dalam keterangan tertulis pada Kamis, 30 April 2026, menegaskan bahwa proyek ini menjadi momentum penting bagi arah pembangunan nasional, yang menunjukkan pilihan Indonesia untuk berdiri sebagai bangsa industri yang berdaulat.
Mengapa iPhone 16 Belum Bisa Dijual Resmi di Indonesia? Ini Penjelasan Kemenperin

Kelancaran operasional hilirisasi ini didukung penuh oleh kesiapan infrastruktur di KEK Gresik yang dikembangkan oleh PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) kawasan tersebut. Presiden Direktur PT BKMS, Bambang Soetiono, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan ini dirancang selaras dengan arah kebijakan nasional untuk mendorong hilirisasi serta meningkatkan efisiensi logistik. Salah satu fasilitas penunjang utama adalah Jalan Raya Daendels-Manyar yang terhubung langsung dengan pintu gerbang utama KEK Gresik dan memberikan akses lancar menuju area pelabuhan terintegrasi. Selain itu, terdapat pula pembangunan jalur jalan dengan lebar right of way (ROW) hingga 80 meter yang menghubungkan fasilitas industri secara langsung ke pelabuhan laut dalam JIIPE dengan jarak sekitar 5 kilometer.
Langkah hilirisasi komoditas tambang ini juga mendapat perhatian dari kalangan pengamat hukum energi dan pertambangan. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, pada Selasa, 12 Mei 2026, menyatakan bahwa sejauh ini nikel dan tembaga merupakan dua komoditas mineral yang paling sukses menjalankan program hilirisasi di tanah air. Menurutnya, keberadaan fasilitas pengolahan di Gresik perlu terus didukung agar tidak hanya berhenti pada produk setengah jadi, melainkan berlanjut hingga industri hilir seperti komponen elektronik dan kendaraan listrik guna memaksimalkan penyerapan pasar domestik.
Pemerintah Siapkan Belanja Rp4.097,2 Triliun di RAPBN 2027

Saat ini, sektor industri tembaga nasional masih didominasi oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengelola kegiatan dari hulu penambangan hingga pengolahan di smelter. Secara keseluruhan, PT Freeport Indonesia memiliki kapasitas produksi konsentrat sekitar 3,2 juta ton per tahun, yang menghasilkan sekitar 900.000 ton tembaga dan 50 hingga 60 ton emas. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang diajukan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada pertengahan November 2025, Freeport memproyeksikan produksi tembaganya berada di kisaran 478.000 ton. Pada periode yang sama, perusahaan memproyeksikan harga tembaga dunia dapat mencapai US$ 4,75 per pon, meningkat dibandingkan dengan asumsi RKAB sebelumnya yang sebesar US$ 3,75 per pon.






