Kementerian Perhubungan melaporkan lima bandar udara di wilayah Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, mengalami kerusakan akibat guncangan gempa bumi berkekuatan besar yang melanda kawasan tersebut. Gempa ini mengakibatkan keretakan pada fasilitas penting bandara, mulai dari bangunan terminal hingga area landasan pacu (runway). Kelima infrastruktur udara yang terdampak langsung meliputi Bandara Komodo di Labuan Bajo, Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Bandara Frans Sales Lega di Ruteng, dan Bandara Soa di Bajawa.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pemeriksaan intensif terhadap seluruh fasilitas dan infrastruktur bandara terus dilakukan. Laporan awal menunjukkan kerusakan bervariasi, termasuk retakan pada bangunan terminal penumpang, gedung administrasi, gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK), serta fasilitas penunjang lainnya. Di Bandar Udara Soa yang terletak di Bajawa, dilaporkan terjadi kerusakan dengan tingkat sedang pada bagian runway serta beberapa titik retakan baru pada bangunan penunjang operasional.
Berdasarkan data Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dari BMKG, gempa utama dengan magnitudo 7,0 terjadi pada pukul 05.58 WITA. Pusat gempa terdeteksi berada di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer. Tidak berselang lama, gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,2 kembali mengguncang pada pukul 06.13 WITA. Gempa susulan ini berpusat di laut sekitar 46 kilometer timur laut Labuan Bajo pada kedalaman yang sama, yakni 10 kilometer.
Badan Geologi, Ada Indikasi Likuifaksi Setelah Gempa NTT

Guncangan keras ini turut berdampak pada unit pelayanan navigasi penerbangan di wilayah tersebut, seperti Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng. Kendati demikian, seluruh personel navigasi dilaporkan dalam kondisi selamat. Untuk mengantisipasi kerusakan pada gedung menara pengawas (tower), pelayanan navigasi udara dialihkan sementara waktu dan dioperasikan dari lokasi alternatif yang dinilai aman.
Untuk menjaga kelancaran operasional penerbangan pascabencana, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menyiapkan rencana kontinjensi (contingency plan). Langkah ini diambil guna memastikan keselamatan serta keberlangsungan pelayanan navigasi penerbangan di wilayah terdampak. Selain itu, Kementerian Perhubungan juga menyiapkan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD) demi kesiapan pengiriman bantuan bencana kepada masyarakat.
Paskibraka IKN Resmi Dikukuhkan untuk Upacara HUT ke-81 RI setelah Latihan Efektif 5 Hari

Dampak gempa bumi ini tidak hanya dirasakan di sektor udara, melainkan juga merusak sejumlah infrastruktur pelabuhan di Nusa Tenggara Timur. Di Pelabuhan Laurentius Say, guncangan gempa merobohkan bagian dermaga dan bangunan ruang tunggu. Pada saat gempa terjadi, kapal KM Bukit Siguntang dilaporkan sedang bersandar di dermaga tersebut. Kerusakan berupa kerusakan kantor dan terminal juga terjadi di Pelabuhan Reo, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari lokasi tersebut. Sementara itu, Pelabuhan Nangakeo mengalami kerusakan ringan berupa plafon runtuh dan tembok retak, yang memaksa dihentikannya sementara layanan pelayaran perintis di pelabuhan tersebut.
Merespons situasi darurat ini, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi langsung menginstruksikan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Perhubungan di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Dudy meminta jajarannya untuk terus berkoordinasi secara intensif dengan BMKG, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, serta para operator transportasi demi memastikan penanganan dampak gempa berjalan secara cepat dan aman.






