Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat keberhasilan signifikan dalam pelaksanaan program insentif biodiesel di Indonesia. Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, yaitu pada periode tahun 2015 hingga 2025, program insentif ini dilaporkan telah berhasil memberikan penghematan devisa bagi negara hingga mencapai Rp722,9 triliun. Angka penghematan yang cukup besar ini menjadi salah satu indikator penting dari kontribusi sektor kelapa sawit terhadap stabilitas perekonomian nasional.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menjelaskan secara rinci mengenai asal penghematan devisa tersebut. Menurut penjelasannya, penghematan yang bernilai ratusan triliun rupiah ini bersumber langsung dari berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar minyak jenis solar oleh Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi karena sebagian dari porsi konsumsi solar di dalam negeri kini telah berhasil digantikan dengan bahan bakar nabati yang berbasis minyak kelapa sawit. Keterangan resmi ini disampaikan oleh Zaid saat menggelar konferensi pers di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada hari Rabu (29/7/2026).
Zaid memaparkan bahwa selama jangka waktu pelaksanaan program dari tahun 2015 hingga 2025 tersebut, total volume penyaluran biodiesel secara nasional telah mencapai angka 83,8 juta kiloliter. Guna mendukung kelancaran penyaluran dan menjaga keberlanjutan program bahan bakar nabati ini, BPDP telah mengucurkan dana insentif biodiesel dengan nilai total akumulatif sebesar Rp240 triliun. Penyaluran dana insentif ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan dan mendorong penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan di tanah air.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain mengalokasikan dana untuk insentif biodiesel, BPDP juga memiliki tanggung jawab dalam menyalurkan dana untuk sejumlah program strategis lainnya di sektor industri kelapa sawit nasional. Salah satu program utama yang dijalankan adalah peremajaan sawit rakyat (PSR). Selama sekitar sepuluh tahun terakhir ini, pihak BPDP tercatat telah menyalurkan dana sebesar Rp12,3 triliun khusus untuk menyukseskan program PSR tersebut. Dana yang dikucurkan ini digunakan untuk meremajakan kebun sawit rakyat dengan luas total cakupan mencapai lebih dari 408.000 hektare, yang dikelola dan dimanfaatkan oleh sekitar 182.000 pekebun.
Tidak hanya berfokus pada peremajaan tanaman sawit, lembaga ini juga turut menyalurkan bantuan dana sebesar Rp537 miliar yang dialokasikan khusus untuk penyediaan sarana dan prasarana di perkebunan kelapa sawit milik rakyat. Program penyediaan sarana dan prasarana ini menjangkau lahan kebun sawit rakyat dengan luas sekitar 50.000 hektare yang melibatkan sebanyak 12.848 pekebun. Bantuan fisik yang disalurkan melalui program ini meliputi penyediaan benih kelapa sawit unggul, pupuk, hingga penyediaan berbagai jenis alat dan mesin pertanian guna mendukung produktivitas petani di lapangan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas industri sawit secara menyeluruh, BPDP juga memberikan perhatian besar pada aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi para pekebun. Untuk mendukung hal tersebut, BPDP telah menyalurkan dana sekitar Rp1,3 triliun untuk program pendidikan serta pelatihan. Alokasi dana pendidikan ini mencakup pemberian beasiswa yang ditujukan kepada 13.265 penerima, serta pelaksanaan kegiatan pelatihan terarah yang diikuti oleh lebih dari 29.000 pekebun sawit di berbagai daerah di Indonesia.






