Langkah pengembangan infrastruktur telekomunikasi generasi kelima (5G) terus berjalan di berbagai wilayah Indonesia melalui penambahan titik koneksi baru oleh pihak operator seluler. Salah satu langkah nyata dalam perluasan ini ditunjukkan oleh Telkomsel yang secara resmi mengumumkan ekspansi jaringan Hyper 5G mereka. Ekspansi penting ini diawali dari wilayah Denpasar dan Badung di Bali. Dalam proyek pembangunan di kawasan Bali Selatan tersebut, Telkomsel menggandeng Huawei sebagai mitra penyedia solusi jaringan. Kolaborasi ini berhasil membangun 225 lokasi jaringan Hyper 5G yang tersebar di wilayah tersebut, dengan rincian sebanyak 67 lokasi baru berada di Denpasar dan 136 lokasi lainnya ditempatkan di wilayah Badung.
Melalui penambahan titik baru di Bali, layanan jaringan 5G milik Telkomsel kini telah menjangkau lebih dari 1.000 lokasi yang tersebar di 56 kota dan kabupaten di seluruh wilayah Indonesia. Secara keseluruhan, operasional Telkomsel saat ini didukung oleh infrastruktur yang sangat besar, yakni memiliki lebih dari 265.900 BTS. Dengan kekuatan jaringan tersebut, operator seluler ini mampu melayani kebutuhan komunikasi bagi lebih dari 159,9 juta pelanggan seluler serta memberikan layanan internet cepat bagi lebih dari 9,1 juta pelanggan fixed broadband di berbagai daerah.
Upaya Pemulihan Pusat Data Nasional PDNS Pasca Ransomware Ditargetkan Rampung Juli

Kendati ekspansi infrastruktur di tingkat lokal seperti di Bali terus menunjukkan perkembangan positif, proyeksi adopsi teknologi 5G secara nasional di Indonesia dinilai masih tertinggal jauh. Merujuk pada laporan terbaru yang dirilis oleh Global System for Mobile Communication Association (GSMA), tingkat penetrasi jaringan seluler generasi kelima di Indonesia diprediksi baru akan menyentuh angka 32 persen pada tahun 2030 mendatang. Meskipun proyeksi untuk tahun 2030 tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan, angka ini sebenarnya masih sangat rendah jika dibandingkan dengan tingkat adopsi pada tahun 2024 yang tercatat hanya berada di kisaran 4 persen saja.
Ketertinggalan adopsi teknologi ini semakin terlihat jelas saat membandingkan proyeksi Indonesia dengan negara-negara lain. Berdasarkan data dari laporan GSMA, tingkat adopsi 5G di sejumlah negara seperti Korea Selatan, Singapura, Jepang, hingga Australia diprediksi akan mencapai angka berkisar antara 87 hingga 94 persen pada tahun 2030. Tidak hanya tertinggal dari negara-negara maju tersebut, posisi Indonesia juga masih berada di bawah beberapa negara lainnya di Asia. Sebagai contoh, penetrasi 5G pada tahun 2030 di Vietnam diproyeksikan mampu mencapai 62 persen, disusul oleh India sebesar 57 persen, Malaysia sebesar 50 persen, serta Filipina yang diperkirakan akan mencapai angka 46 persen.
Kominfo Pantau Operasional Starlink di Indonesia Terkait Pajak dan Kantor

Menanggapi rendahnya proyeksi penetrasi ini, Head of Asia Pacific GSMA, Julian Gorman, menjelaskan bahwa lambatnya adopsi 5G di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor struktural. Dua penyebab utama yang ia soroti adalah lambannya proses alokasi spektrum oleh pihak berwenang serta regulasi yang berlaku saat ini dinilai belum cukup memberikan dukungan untuk mempercepat investasi dari operator seluler. Situasi regulasi di Indonesia ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Vietnam. Dalam rangka mempercepat adopsi teknologi baru ini, pemerintah Vietnam memberikan dukungan kepada operator seluler berupa pemberian subsidi serta potongan harga spektrum yang signifikan, yakni mencapai hingga 90 persen.






