PT Freeport Indonesia (PTFI) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Sepak Bola Tembagapura, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, pada Senin, 17 Agustus 2026. Dengan mengusung tema "One Freeport dari Timur Indonesia, Kita Bangkit Bersama", upacara ini dipimpin langsung oleh Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, yang bertindak sebagai inspektur upacara. Momentum peringatan kemerdekaan ini dimanfaatkan perusahaan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menyuarakan komitmen pemulihan operasional dan kontribusi berkelanjutan bagi negara.
Langkah pemulihan operasional menjadi fokus utama setelah PTFI menghadapi berbagai tantangan berat selama hampir 60 tahun beroperasi di Papua. Dalam beberapa waktu terakhir, aspek keselamatan kerja diuji oleh sejumlah insiden fatal. Pada 8 September 2025, terjadi musibah luncuran material basah di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang mengakibatkan tujuh pekerja meninggal dunia. Tak lama berselang, pada kuartal pertama tahun 2026, sebuah insiden keamanan kembali merenggut nyawa dua orang pekerja. Guna memulihkan area tambang bawah tanah tersebut, PTFI dihadapkan pada pekerjaan berat untuk memindahkan sekitar 800 ribu ton material lumpur basah. Dalam menghadapi situasi sulit ini, manajemen menekankan kembali nilai-nilai inti perusahaan yang disingkat SINCERE, yaitu safety (keselamatan), integrity (integritas), commitment (komitmen), respect (penghormatan), dan excellence (keunggulan).
Produksi Hampir 500 Kargo, LNG Donggi-Senoro Siap Tambah Pasokan Dalam Negeri

Meskipun dihadapkan pada kendala operasional pascainsiden, PTFI tetap menargetkan pemulihan kapasitas produksi secara bertahap. Perusahaan memproyeksikan kapasitas produksi dapat mencapai 65 persen pada akhir semester kedua tahun 2026 ini, dengan target produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas. Pemulihan operasional ditargetkan terus meningkat hingga mencapai 75 persen pada pertengahan tahun 2027, sebelum akhirnya mendekati kapasitas produksi penuh pada akhir tahun 2027. Di sektor hilir, hilirisasi terus diperkuat melalui smelter PTFI di Gresik yang bersama dengan PT Smelting akan memiliki kapasitas pemurnian gabungan sebesar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Keberlanjutan operasional jangka panjang PTFI saat ini juga bergantung pada proses perpanjangan izin. Pada Februari 2026, pemerintah bersama Freeport-McMoRan dan PTFI telah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) terkait perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Langkah ini ditindaklanjuti PTFI dengan mengajukan permohonan resmi perpanjangan IUPK kepada pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada pertengahan Juni 2026. Kepastian hukum ini dinilai krusial bagi perusahaan untuk mempertahankan lapangan pekerjaan bagi sekitar 30 ribu tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada operasional tambang ini.
Menperin Bantah Isu Deindustrialisasi, Sebut Kontribusi Manufaktur ke PDB Stabil

Di sisi investasi masa depan, PTFI tengah mengembangkan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar. Nilai investasi yang telah dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 25 triliun, dari total proyeksi keseluruhan yang diperkirakan menyentuh angka Rp 72 triliun. Selama masa operasionalnya nanti, Tambang Kucing Liar diproyeksikan mampu memproduksi lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounce emas. Investasi masif ini berjalan beriringan dengan kontribusi finansial yang signifikan bagi kas negara. Sepanjang tahun 2025 saja, kontribusi PTFI kepada negara tercatat mencapai Rp 75 triliun, di mana sekitar Rp 13 triliun di antaranya disalurkan untuk Pemerintah Kabupaten Mimika serta kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Papua Tengah.






