Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara tegas membantah anggapan yang menyebutkan bahwa Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini. Bantahan tersebut disampaikan oleh Menperin saat memberikan sambutan dalam acara kumparan Green Initiative Conference 2025 yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis (18/9/2025). Menurutnya, indikator kinerja sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional menunjukkan bahwa kondisi industri di dalam negeri masih sangat kokoh dan jauh dari isu deindustrialisasi.
Sebagai salah satu bukti bahwa Indonesia tidak sedang mengalami deindustrialisasi, Menperin memaparkan data kontribusi industri pengolahan. Selama periode empat tahun terakhir, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional tercatat relatif stabil, yakni berada di kisaran 18 hingga 19 persen. Stabilitas ini terus berlanjut hingga ke periode berikutnya. Pada kuartal II tahun 2026, industri pengolahan tercatat menyumbang sebesar 18,50 persen terhadap total PDB nasional.
Dari sisi pertumbuhan, sektor industri pengolahan juga menunjukkan performa yang positif. Pada kuartal II 2026, sektor ini berhasil tumbuh sebesar 4,52 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Meskipun pertumbuhan sektor industri pengolahan berada di angka tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia secara keseluruhan pada kuartal II 2026 berhasil mencapai angka 5,29 persen yoy. Pertumbuhan di sektor pengolahan ini ditopang oleh kinerja yang kuat dari berbagai subsektor industri di dalamnya.
Pemerintah Kaji Skema Baru Penyaluran BBM Subsidi dan Bantuan Langsung Tunai

Kinerja positif pada kuartal II 2026 ini didorong oleh pertumbuhan di berbagai subsektor industri manufaktur yang cukup signifikan. Industri barang logam mencatatkan pertumbuhan tertinggi yakni mencapai 8,04 persen. Disusul kemudian oleh industri makanan dan minuman yang tumbuh sebesar 6,51 persen. Menariknya, industri makanan dan minuman ini menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi keseluruhan sektor manufaktur dengan andil kontribusi mencapai 2,26 persen. Subsektor lainnya juga ikut tumbuh, seperti industri tekstil dan pakaian jadi yang tumbuh sebesar 6,36 persen, industri alat angkutan yang tumbuh sebesar 5,45 persen, serta industri kimia dan farmasi yang tumbuh sebesar 4,99 persen.
Jika ditarik ke belakang, tren positif pada sektor industri manufaktur ini sebenarnya sudah terlihat jelas pada tahun 2025. Pada tahun tersebut, pertumbuhan sektor manufaktur bahkan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Dinamika pertumbuhan manufaktur yang berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional dengan capaian tertinggi ini merupakan momen penting, mengingat hal tersebut terakhir kali terjadi pada tahun 2011. Sebagai perbandingan, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,11 persen sepanjang tahun 2025, yang menunjukkan peningkatan dari pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 5,03 persen.
BPR Kota Bandung Rugi Rp70 Miliar, DPRD Soroti Kredit Macet dan Tata Kelola

Selain dari segi kontribusi PDB dan pertumbuhan sektoral, ketangguhan sektor manufaktur di Indonesia juga tercermin dari sisi investasi. Sepanjang periode tahun 2020 sampai dengan tahun 2025, investasi yang masuk ke sektor manufaktur di Indonesia dinilai tetap stabil. Menperin mengungkapkan bahwa sebesar 40 persen dari total keseluruhan investasi yang masuk ke Indonesia diarahkan ke industri manufaktur. Dengan porsi investasi yang besar dan konsisten tersebut, sektor manufaktur tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional, yang sekaligus mematahkan argumen mengenai adanya gejala deindustrialisasi di Indonesia.






