Hubungan politik di Washington D.C. kembali memanas setelah munculnya pernyataan kontroversial dari salah satu anggota Kongres Amerika Serikat. Anggota Kongres dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, melontarkan pernyataan mengejutkan melalui media sosial yang langsung menarik perhatian publik internasional. Dalam pernyataannya, Marjorie Taylor Greene klaim pemerintahan Trump bahas pakai senjata nuklir lawan Iran. Pernyataan ini memicu perdebatan sengit mengenai arah kebijakan luar negeri AS, terutama mengingat status Greene yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat Donald Trump di Kongres.
Keretakan hubungan antara Greene dan Trump dilaporkan terjadi setelah ia mendesak perilisan dokumen rahasia terkait mendiang Jeffrey Epstein. Epstein sendiri merupakan terpidana pedofil yang telah meninggal dunia, di mana lingkaran sosialnya semasa hidup mencakup Donald Trump serta sejumlah tokoh berpengaruh lainnya. Setelah keretakan hubungan tersebut, Greene kini mengambil sikap yang berseberangan dengan mantan sekutunya dan mendesak masyarakat Amerika Serikat untuk menentang segala bentuk eskalasi perang di Timur Tengah.
Melalui unggahan di media sosial, Greene menegaskan bahwa dirinya tidak sedang berspekulasi melainkan mengetahui secara pasti adanya diskusi strategis tersebut. Ia menyebut rencana penggunaan senjata pemusnah massal itu sebagai tindakan yang murni jahat. Lebih lanjut, Greene menuduh Washington berupaya menyulut perang berdasarkan peringatan yang terus disuarakan oleh Israel mengenai program nuklir Teheran. Padahal, menurut klaim Greene, badan intelijen Amerika Serikat sendiri telah memberikan laporan kepada Trump dan jajaran pemerintahannya bahwa Iran sama sekali tidak berada dalam posisi yang dekat untuk memproduksi senjata nuklir.
Makna Simbolis Kalung Melati Presiden Prabowo di Upacara HUT ke-81 RI

Dampak dari potensi eskalasi ini dinilai sangat mengerikan. Greene memperingatkan bahwa langkah militer lebih jauh dapat memicu holokaus nuklir di tingkat global, depresi ekonomi yang parah, serta jatuhnya korban jiwa dalam skala yang belum pernah terjadi selama beberapa generasi. Di sisi lain, militer Amerika Serikat saat ini dilaporkan tengah menghadapi kendala penipisan stok senjata. Laporan dari NBC News baru-baru ini juga mengungkapkan bahwa Pentagon sedang merancang strategi baru yang memberikan peran lebih besar bagi senjata nuklir taktis jarak pendek dalam konflik regional. Langkah ini didukung oleh pernyataan seorang pejabat senior pertahanan AS yang menyebutkan bahwa Washington memerlukan opsi nuklir yang kredibel. Amerika Serikat sendiri mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam pertempuran, yaitu saat mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Ketegangan antara AS dan Iran juga diwarnai oleh berbagai dinamika lain di kawasan Teluk. Donald Trump sebelumnya sempat mengancam akan membom Oman apabila negara tersebut menghalangi proses negosiasi AS-Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski situasi memanas akibat pembatalan gencatan senjata dan serangan oleh pihak AS, Iran dan Oman tetap melanjutkan pembicaraan teknis untuk merumuskan mekanisme keselamatan pelayaran di selat strategis tersebut. Di tengah ketegangan ini, militer Iran bahkan mengumumkan sayembara berhadiah 5 miliar toman atau sekitar Rp535 juta bagi siapa saja yang berhasil melumpuhkan tentara AS, dengan bonus dua kali lipat jika targetnya adalah prajurit wanita.
Polisi Selidiki Pengeroyokan Pengendara Motor oleh Rombongan Pengantar Jenazah di Pondok Ranggon

Di internal militer dan pemerintahan AS sendiri, friksi terus bermunculan. Di atas kapal induk USS Lincoln, Laksamana Brad Cooper mengakui adanya tantangan kesehatan mental yang serius setelah adanya laporan mengenai seorang pelaut yang melompat ke laut. Kendati demikian, Trump membantah kabar mengenai merosotnya moral prajurit di kapal tersebut. Ketegangan di lingkaran dalam Trump juga terlihat dari video viral yang menunjukkan ekspresi kesal Karoline Leavitt terhadap Trump, sesaat setelah pengumuman pengunduran dirinya dari jabatan Sekretaris Pers Gedung Putih.






