Starlink, sebuah konstelasi satelit pertama dan terbesar di dunia yang menggunakan orbit rendah Bumi (low Earth orbit) untuk menyediakan layanan internet broadband, telah resmi beroperasi di Indonesia sejak Mei 2024. Kehadiran layanan internet milik Elon Musk ini diawali ketika SpaceX mengajukan perizinan operasional kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada April 2024. Perizinan yang diajukan oleh SpaceX tersebut mencakup penyelenggaraan layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Internet Service Provider (ISP). Di Indonesia, entitas bisnis resmi yang menaungi layanan jasa internet ini dinamakan PT Starlink Service Indonesia.
Meskipun telah resmi beroperasi, kehadiran PT Starlink Service Indonesia tidak lepas dari perhatian pemerintah. Saat ini, Kominfo tengah melakukan proses pemantauan terhadap keberadaan jasa internet tersebut. Langkah pemantauan ini diambil oleh pihak Kominfo dikarenakan PT Starlink Service Indonesia dilaporkan belum memiliki kantor fisik di Indonesia. Selain masalah ketiadaan kantor, entitas ini juga dipantau karena belum membayar pajak sesuai dengan aturan dan regulasi yang telah berlaku di Indonesia.
Cara Daftar IMEI HP dari Luar Negeri Melalui Tiga Jalur Resmi

Di tengah masuknya pemain global seperti Starlink, penyediaan infrastruktur satelit nasional juga terus diperkuat untuk menjangkau wilayah terpencil. Telkomsat dilaporkan telah menyelesaikan proyek penyediaan kapasitas satelit dan backbone. Proyek ini ditujukan untuk mendukung operasional Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) BAKTI di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Keberhasilan proyek dari Telkomsat ini menjadi bagian penting dalam penyediaan jaringan backbone dan kapasitas satelit demi mendukung kelancaran operasional BTS di wilayah-wilayah 3T tersebut.
Bagi masyarakat Indonesia yang tertarik menggunakan layanan Starlink, penyedia ini menawarkan tiga jenis paket secara umum, yaitu Residential, Roam, dan Boats. Seluruh paket internet yang ditawarkan oleh Starlink ini memiliki keunggulan berupa layanan tanpa kontrak atau komitmen jangka panjang, serta menawarkan kuota data yang tidak terbatas (unlimited). Untuk paket Residential, biaya berlangganan bulanan dimulai dari Rp 750.000 dengan biaya perangkat keras (hardware) sebesar Rp 4.680.000. Sementara itu, bagi pengguna yang dinamis, paket Roam ditawarkan dengan biaya berlangganan mulai dari Rp 990.000 per bulan dan biaya perangkat keras yang sama, yaitu Rp 4.680.000. Untuk kebutuhan maritim, paket Boats ditawarkan dengan biaya langganan berkisar dari Rp 4.345.000 hingga Rp 86.130.000 per bulan, dengan biaya perangkat keras Flat High Performance sebesar Rp 43.721.590. Selain pembelian perangkat keras secara langsung, Starlink juga menawarkan layanan penyewaan perangkat keras di wilayah-wilayah tertentu.
Kemenperin Proses Sertifikasi TKDN iPhone 16 dan iPhone 17 Setelah Kesepakatan dengan Apple

Dari segi performa, teknologi satelit orbit rendah Bumi yang digunakan oleh Starlink mampu memberikan kecepatan internet yang tinggi, yaitu hingga 220 Mbps dengan latensi rendah. Namun, pengguna juga perlu menyadari beberapa kelemahan dan keterbatasan operasional dari layanan ini. Salah satunya adalah Starlink tidak menawarkan layanan pemasangan atau instalasi perangkat kepada para pelanggannya, sehingga pengguna harus memasangnya secara mandiri. Selain itu, kinerja koneksi internetnya dapat terganggu oleh faktor cuaca dan lingkungan. Kecepatan internet Starlink bisa menjadi lebih lambat dari yang seharusnya saat terjadi hujan lebat. Tidak hanya itu, keberadaan benda padat di sekitar antena penerima, seperti bangunan rumah, pohon, maupun benda-benda lainnya, juga dapat menghalangi frekuensi radio satelit dan menyebabkan gangguan sinyal sehingga kinerjanya tidak berfungsi secara maksimal.






