Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat mengalami tekanan berat hingga melemah ke level Rp17.424 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari Selasa, 5 Mei 2026. Tren penurunan ini terus berlanjut hingga rupiah menyentuh titik terlemahnya di level Rp18.190 per dolar AS pada awal pekan. Namun, situasi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mata uang rupiah menguat sebesar 114 poin atau sekitar 0,63 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS dari level sebelumnya yaitu Rp18.058 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp17.971 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.141 per dolar AS.
Menurut Muhammad Amru Syifa dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), pemulihan ini didorong oleh membaiknya sentimen pasar serta langkah stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Salah satu langkah domestik yang memengaruhi sentimen positif pasar adalah keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Upaya menjaga stabilitas ini juga diperkuat melalui koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Laporan Inflasi Bulanan Indeks Harga Konsumen BPS Tunjukkan Fluktuasi Harga Sepanjang 2026

Dalam pertemuan tersebut, Perry Warjiyo mengungkapkan dua langkah utama hasil koordinasi fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah pertama adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil guna mendorong kembalinya aliran modal masuk (portfolio inflows). Langkah ini diambil untuk mengatasi keluarnya modal asing (outflow) di sektor saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan sebagian kecil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akibat kenaikan suku bunga di luar negeri. Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan dengan tetap menempatkan pengelolaan kas pemerintah di Bank Indonesia. Atas penempatan dana tersebut, Bank Indonesia memberikan peningkatan bunga yang dibayarkan kepada pemerintah.
Selain koordinasi tersebut, Bank Indonesia juga menerapkan tujuh langkah kebijakan yang telah dilaporkan dan disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto. Langkah pertama adalah melakukan intervensi secara langsung di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri maupun pasar Domestic NDF (DNDF) di dalam negeri. Langkah kedua adalah memperkuat aliran modal masuk melalui SRBI untuk menutupi arus keluar modal dari pasar saham dan SBN. Sebagai langkah ketiga, Bank Indonesia secara konsisten membeli SBN di pasar sekunder, dengan total pembelian mencapai Rp123,1 triliun secara year-to-date. Langkah keempat dilakukan dengan menjaga kecukupan likuiditas perbankan dan pasar secara bersama-sama dengan Kementerian Keuangan.
Strategi Mengoptimalkan Siaran Langsung Daring untuk Perkuat Merek di Pasar Digital

Tiga langkah berikutnya berfokus pada pengetatan regulasi dan pengawasan pasar valuta asing. Bank Indonesia memperketat aturan pembelian dolar AS tanpa transaksi pendukung (underlying) dari batasan awal sebesar USD 100.000 menjadi USD 50.000 per orang per bulan, dengan rencana penurunan lebih lanjut hingga USD 25.000. Selanjutnya, bank domestik yang bertindak sebagai dealer utama kini diizinkan untuk menjual NDF di pasar luar negeri guna memperkuat intervensi di pasar offshore. Terakhir, Bank Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar AS dalam jumlah tinggi, bekerja sama dengan Friderica Widyasari Dewi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).






