Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan inflasi bulanan Indeks Harga Konsumen BPS untuk periode Juni 2026 dengan mencatat inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm). Perkembangan ini mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Secara tahunan (year on year/yoy), tingkat inflasi pada Juni 2026 menyentuh angka 3,34 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/ytd) tercatat sebesar 1,79 persen.
Penyumbang inflasi bulanan terbesar pada Juni 2026 berasal dari kelompok pengeluaran transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,28 persen. Komoditas bensin menjadi pendorong utama pada kelompok transportasi dengan sumbangsih sebesar 0,21 persen, disusul oleh tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen. Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil 0,06 persen terhadap inflasi nasional, yang didorong oleh komoditas bawang merah (0,04 persen), bawang putih (0,03 persen), serta beras (0,02 persen).
Bursa Efek Indonesia Kembali Tunda Penerapan Transaksi Short Selling

Sebelumnya, laporan inflasi bulanan Indeks Harga Konsumen BPS pada Maret 2026 menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,41 persen, dengan kenaikan IHK dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret. Pada periode tersebut, BPS mencatatkan inflasi tahunan sebesar 0,94 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama dengan inflasi sebesar 1,07 persen serta memberikan andil 0,32 persen. Komoditas ikan segar dan daging ayam ras masing-masing menyumbang andil 0,06 persen, sedangkan beras menyumbang 0,03 persen. Komoditas lain seperti telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi masing-masing berkontribusi sebesar 0,02 persen. Kenaikan harga bensin menyumbang 0,04 persen dan tarif angkutan antarkota sebesar 0,03 persen, sedangkan tarif angkutan udara serta emas perhiasan justru menahan laju inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,03 persen.
Berdasarkan komponennya pada Maret 2026, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,13 persen dengan andil 0,08 persen, dipicu oleh harga minyak goreng serta nasi dengan lauk. Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok inti secara bulanan ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,42 persen. Secara tahunan, inflasi inti Maret 2026 berada di angka 2,52 persen (yoy), turun dari 2,63 persen (yoy) pada Februari. Untuk kelompok volatile food, inflasi tercatat sebesar 1,58 persen (mtm) dan secara tahunan mencapai 4,24 persen (yoy), keduanya mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi sebesar 0,31 persen (mtm) dengan andil 0,06 persen menurut data BPS, berbalik dari kondisi deflasi 0,03 persen (mtm) pada Februari. Secara tahunan, kelompok administered prices ini mengalami inflasi 6,08 persen (yoy), lebih rendah dari 12,66 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Analisis Keputusan BI Rate Bank Indonesia Terbaru dan Arah Kebijakan Moneter

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran sebesar 2,5卤1 persen. Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 mencapai 3,48 persen (yoy), menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan capaian Februari 2026 yang sempat berada di angka 4,76 persen (yoy). Adanya perbedaan angka inflasi tahunan Maret 2026 antara catatan BPS sebesar 0,94 persen dan laporan Bank Indonesia sebesar 3,48 persen menggambarkan perbedaan cakupan atau metodologi komparasi tahunan yang digunakan oleh masing-masing lembaga publik tersebut.






