Sebanyak 19 puskesmas dan 1 rumah sakit di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan belum dapat beroperasi setelah wilayah Flores diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Kondisi infrastruktur medis yang terdampak ini memicu perhatian serius dari parlemen. Terkait situasi tersebut, isu utama yang kini mengemuka adalah penanganan pascabencana, di mana isu Gempa NTT, DPR Minta Kedaruratan Layanan Kesehatan Diterapkan menjadi fokus desakan legislatif agar penanganan medis bagi para korban segera dimaksimalkan.
Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, menegaskan krusialnya penerapan kedaruratan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Langkah darurat ini dinilai mendesak mengingat banyaknya fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan fisik akibat guncangan gempa yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo tersebut. Ketua DPR RI Puan Maharani juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana yang menimpa masyarakat Flores dan sekitarnya ini.
Strategi Mengoptimalkan Siaran Langsung Daring untuk Perkuat Merek di Pasar Digital

Jika dirinci secara mendalam, dampak gempa terhadap fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) cukup signifikan. Dari total 190 puskesmas di area terdampak, hanya 122 unit yang saat ini mampu beroperasi secara penuh. Sementara itu, 49 puskesmas hanya beroperasi sebagian, dan 19 unit lainnya masih lumpuh total. Dari segi kerusakan fisik bangunan, tercatat 11 puskesmas mengalami rusak ringan, 37 rusak sedang, dan 20 unit lainnya mengalami kerusakan berat. Kondisi serupa terjadi pada tingkat rumah sakit; dari 21 rumah sakit yang ada, 16 masih beroperasi penuh, 4 beroperasi sebagian, dan 1 rumah sakit belum beroperasi. Fasilitas rumah sakit ini juga mengalami kerusakan dengan rincian 6 unit rusak ringan dan 3 unit rusak berat.
Menyikapi kondisi kedaruratan ini, Kementerian Kesehatan telah bergerak cepat dengan memobilisasi sejumlah tim penanganan. Dua tim manajemen krisis kesehatan serta dua Emergency Medical Team (EMT) dikerahkan langsung ke lapangan. Selain itu, pusat operasi kedaruratan kesehatan atau Health Emergency Operation Center (HEOC) telah diaktifkan di sembilan lokasi berbeda guna mengoordinasikan langkah-langkah medis. Bantuan logistik kesehatan berupa obat-obatan, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), emergency kit, tenda pos kesehatan, serta oksigen konsentrator juga telah dikirimkan. Pada tanggal 16 Agustus 2026, Kemenkes menjadwalkan pengiriman tambahan berupa delapan paket obat dasar, lima emergency kit, sepuluh oksigen konsentrator, serta tenda pos kesehatan tambahan.
Normalisasi Muara Krueng Meureudu Dikebut agar Nelayan Bisa Melaut Lagi

Kerusakan akibat gempa berkekuatan M7,7 ini tidak hanya menyasar fasilitas kesehatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan unit rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan. Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyoroti tantangan lain berupa keterbatasan anggaran bencana di beberapa daerah terdampak di Flores. Untuk mendukung kelancaran operasional di lapangan, bantuan penanganan darurat telah tiba di Labuan Bajo pada Minggu, 16 Agustus 2026, dini hari. PT Pertamina (Persero) turut memastikan ketersediaan energi dan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung masa tanggap darurat, sementara BNI menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak. Koordinasi di sektor pendidikan juga dilakukan oleh Mendiktisaintek Brian Yuliarto bersama LLDIKTI dan perguruan tinggi setempat demi memantau situasi pascagempa.






