Proyek pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, bersiap untuk kembali memutar roda operasionalnya pada September tahun ini. Langkah pemulihan ini diambil setelah fasilitas pemurnian tersebut sempat terhenti akibat rentetan kendala operasional, mulai dari insiden kebakaran hingga terhambatnya pasokan bahan baku dari Papua. Smelter yang terletak di Kawasan Industri Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik ini memegang peran krusial dalam hilirisasi industri pertambangan nasional.
Perjalanan operasional fasilitas ini dipenuhi tantangan sejak mulai beroperasi secara terbatas pada Juni 2024. Pada Agustus 2024, smelter ini sebenarnya sudah mulai memproses konsentrat yang dikirim dari tambang di Papua. Namun, kendala serius terjadi pada Oktober 2024 ketika musibah kebakaran melanda area gas cleaning plant. Meskipun unit ini tergolong kecil, perannya sangat vital karena berfungsi menangkap gas SO2 dari hasil pembakaran furnace agar tidak mencemari udara, untuk kemudian diproses menjadi asam sulfat.
Upaya perbaikan kerusakan akibat kebakaran tersebut berhasil diselesaikan pada Mei 2025. Sayangnya, ketika fasilitas ini siap berproduksi kembali, kendala baru muncul pada September 2025 akibat bencana longsor di area tambang Grasberg, Papua. Bencana tersebut menghentikan pasokan konsentrat menuju smelter di Gresik. Akibatnya, smelter hanya dapat memurnikan sisa stok konsentrat yang berada di gudang penyimpanan hingga sekitar Desember 2025, sebelum akhirnya berhenti beroperasi secara total karena ketiadaan bahan baku.
Investasi Apple Rp2,5 Triliun di Indonesia, Penuhi Regulasi TKDN Lewat Pabrik Batam dan Jawa Barat

Untuk mengatasi kendala pasokan, pemulihan tambang di Papua terus diupayakan. Sejak terjadinya longsor, tambang Freeport di Papua baru bisa beroperasi dengan kapasitas 60 persen. Target pemulihan kapasitas produksi konsentrat ditetapkan mencapai 65 persen pada tahun ini, kemudian meningkat menjadi 75 persen pada semester pertama tahun depan, dan ditargetkan kembali beroperasi penuh hingga 100 persen kapasitas pada akhir tahun 2027.
Smelter baru PT Freeport Indonesia di Gresik ini dirancang dengan kapasitas produksi konsentrat mencapai 1,7 juta dmt per tahun. Ketika beroperasi secara penuh, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan 600.000 ton tembaga, 50 ton emas, serta 210 ton perak per tahun, dengan produk akhir berupa katoda tembaga, emas murni, dan perak murni batangan. Proyek raksasa ini memiliki total rencana investasi sebesar USD 3 miliar atau sekitar Rp 45 triliun. Per 2 Februari 2023, realisasi investasi pembangunan proyek telah mencapai USD 1,6 miliar, dan meningkat hingga menyentuh USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 33 triliun per Mei 2023 dengan menyerap 15.000 tenaga kerja Indonesia. Sebelumnya, pembangunan fisik smelter ini telah mencapai 72 persen dan ditargetkan selesai sebelum Mei 2024.
Rayakan HUT ke-81 RI, PTFI Serukan Semangat Bangkit Bersama dari Indonesia Timur

Dalam struktur kepemilikan, Pemerintah Indonesia saat ini memegang kepemilikan saham mayoritas di PT Freeport Indonesia sebesar 51 persen, sedangkan sisa sahamnya dipegang oleh Freeport McMoRan. Pemerintah juga memiliki rencana untuk menambah porsi kepemilikan saham sebesar 10 persen lagi. Namun, akuisisi tambahan saham tersebut baru ditargetkan terjadi setelah tahun 2041, sebagai salah satu syarat perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia yang akan berakhir pada tahun tersebut. Di samping proyek smelter ini, kawasan industri JIIPE Gresik juga menjadi perhatian pemerintah, di mana Presiden Joko Widodo sempat berkunjung untuk menghadiri peletakan batu pertama atau groundbreaking pabrik foil tembaga milik PT Hailiang Nova Material Indonesia.






