Pasar saham Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan hari Rabu (29/7) akibat kekhawatiran inflasi yang membayangi para pelaku pasar. Penurunan ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan agar tetap stabil. Keputusan untuk menahan suku bunga tersebut diambil meskipun pasar saat ini tengah menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.
Pelemahan ini berdampak langsung pada indeks-indeks utama di bursa Wall Street. Hingga pukul 16.00 waktu New York, indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 1,5 persen. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq 100 merosot lebih dalam hingga 2,1 persen, dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah sebesar 2,2 persen. Sentimen negatif di bursa Amerika Serikat ini juga menjalar ke pasar global, yang terlihat dari indeks dunia MSCI World Index yang mengalami penurunan sebesar 1 persen.
Selain menekan pasar saham, kekhawatiran terhadap inflasi ini turut memicu lonjakan pada imbal hasil obligasi jangka panjang ke level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir. Salah satu indikator pasar obligasi yang paling diperhatikan, yaitu imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat bertenor 30 tahun, bahkan melonjak hingga mencapai level tertingginya sejak tahun 2007.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Merespons perkembangan tersebut, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa keputusan para pembuat kebijakan untuk membiarkan suku bunga tetap stabil bukanlah tanda kelambanan atau inersia dari pihak bank sentral. Warsh kembali menegaskan komitmen penuh bank sentral untuk mengatasi berbagai tekanan harga yang ada demi menjaga stabilitas. Menurut pandangannya, keputusan ini justru memberikan keleluasaan bagi pasar untuk memetakan arah pergerakan mereka secara lebih mandiri dengan mengacu pada sinyal-sinyal perkembangan ekonomi yang muncul.
Namun, langkah The Fed yang tidak memberikan panduan jelas ini menuai kritik dari pelaku pasar. Analis dari Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan bahwa pengabaian panduan oleh bank sentral telah memicu volatilitas bersejarah di pasar obligasi. Slok menggambarkan fluktuasi tersebut dengan menyebut imbal hasil obligasi Treasury bergerak naik dan turun secara ekstrem layaknya permainan yo-yo, yang mencerminkan ketidakpastian tinggi di kalangan investor.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Di sisi lain, Tiffany Wilding dari Pacific Investment Management Co menilai konferensi pers yang disampaikan oleh Warsh mempertegas fokus utama bank sentral saat ini. Menurut Wilding, pernyataan tersebut sangat menekankan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi yang dinilai tetap tangguh, serta penanganan inflasi yang masih bertahan di atas target. Meski begitu, Wilding menggarisbawahi bahwa Warsh tidak memberikan indikasi atau sinyal apa pun mengenai kemungkinan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat pada bulan September mendatang.
Melengkapi analisis tersebut, Josh Jamner dari ClearBridge Investments mengamati bahwa penjelasan Warsh menyiratkan adanya perdebatan internal mengenai efektivitas perubahan suku bunga dalam menghadapi guncangan ekonomi. Selain itu, diperdebatkan pula seberapa jauh guncangan ekonomi tersebut akan diterjemahkan menjadi tekanan inflasi dalam jangka menengah. Menurut Jamner, penjelasan Warsh ini memberikan petunjuk berharga mengenai arah pemikiran terkini dari pihak bank sentral dalam merespons tantangan-tantangan ekonomi tersebut.






