Wabah Flu Burung Meluas ke Peternakan Sapi Perah di AS, Harga Telur Cetak Rekor

Nyaring AranPublished 26 Jul 2026 - 23.35 · 1 Reads
Bagikan WhatsAppX
Wabah Flu Burung Meluas ke Peternakan Sapi Perah di AS, Harga Telur Cetak Rekor
Ilustrasi: Keith Evans, CC BY-SA 2.0 via Wikimedia Commons.
A-A+

Wabah flu burung galur H5N1 di Amerika Serikat memasuki babak baru yang mengkhawatirkan setelah virus ini tidak hanya menghancurkan populasi unggas, tetapi juga menyebar luas ke peternakan sapi perah. Para pejabat kesehatan hewan dan manusia menyebut situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya karena virus influenza yang sangat patogen ini mampu menular antar mamalia dalam skala besar, memicu kegelisahan tentang potensi adaptasi virus yang lebih berbahaya bagi manusia. Hingga awal 2025, lebih dari 900 kawanan sapi perah di 16 negara bagian telah terkonfirmasi positif, memaksa otoritas memperketat pengawasan dan pengujian pada produk susu.

Dampak paling langsung dirasakan konsumen melalui lonjakan harga telur dan daging unggas. Sejak virus H5N1 merebak pada awal 2022, lebih dari 130 juta unggas komersial—ayam petelur, kalkun, dan ayam pedaging—telah dimusnahkan untuk mengendalikan penyebaran penyakit. Akibat pemusnahan massal yang berkelanjutan dan pemulihan populasi yang lambat, harga telur di tingkat grosir maupun eceran di AS meroket. Pada Januari 2025, harga rata-rata satu lusin telur menembus angka 4,95 dolar AS, tertinggi yang pernah tercatat, dan di beberapa kota besar harganya melampaui 6 dolar. Lonjakan ini memicu respons darurat di beberapa negara bagian, termasuk California, yang menyatakan situasi krisis untuk memudahkan distribusi telur dan subsidi bagi peternak.

Also Read

Italia Bergulat dengan Obesitas Anak Setelah Meninggalkan Diet Mediterania

Dari sisi kesehatan manusia, kasus infeksi H5N1 pada warga AS masih tergolong jarang namun terus bertambah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan setidaknya 68 kasus terkonfirmasi sejak awal 2024, sebagian besar merupakan pekerja peternakan sapi perah dan unggas yang terpapar langsung dengan hewan sakit. Sebagian besar gejala yang dilaporkan bersifat ringan, seperti konjungtivitis dan gejala pernapasan atas ringan. Namun, pada Desember 2024, Louisiana mencatat kasus parah pertama pada seorang pasien usia lanjut yang memiliki kontak dengan unggas pekarangan yang terinfeksi, yang kemudian menjadi kematian pertama terkait H5N1 di Amerika Serikat pada Januari 2025. Kematian ini segera memicu peringatan bahwa meskipun risiko penularan antar manusia masih rendah, virulensi virus pada individu rentan tidak boleh diremehkan.

Pemerintah federal dan negara bagian memperkuat langkah-langkah penanggulangan. Departemen Pertanian AS (USDA) menerbitkan perintah pengujian wajib bagi sapi perah yang akan dipindahkan antar negara bagian, serta memulai program pengujian massal susu di silo-silo penampungan untuk mendeteksi sisa virus yang telah dipasteurisasi. Di saat yang sama, pemerintah memesan jutaan dosis vaksin flu burung yang disesuaikan dengan klade hemagglutinin yang beredar, dengan rencana distribusi ke kelompok berisiko tinggi. Otoritas kesehatan juga meluncurkan kampanye edukasi tentang penggunaan alat pelindung diri bagi pekerja peternakan, menyusul temuan bahwa transmisi ke manusia hampir selalu berkaitan dengan paparan tanpa pelindung terhadap hewan sakit atau lingkungannya.

Also Read

Melampaui Seratus Persen, Babak Baru Layanan Kesehatan dari Kota Malang

Kekhawatiran jangka panjang terletak pada potensi virus H5N1 untuk terus bermutasi. Para ilmuwan dari jaringan pengawasan seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa semakin lama virus beredar di antara mamalia seperti sapi dan babi, semakin besar peluang munculnya mutasi yang memungkinkan penularan efisien antarmanusia. Saat ini, para ahli genomik dengan cermat membaca setiap sekuens virus dari sampel hewan maupun manusia untuk memantau perubahan pada protein hemagglutinin yang dapat meningkatkan afinitas virus terhadap reseptor saluran pernapasan atas manusia. Situasi ini menjadi pelajaran bagi sistem kesehatan global tentang pentingnya pendekatan "Satu Kesehatan" yang mengintegrasikan pengawasan pada hewan, manusia, dan lingkungan. Di tengah kekacauan rantai pasok pangan dan kekhawatiran pandemi, wabah flu burung AS mengingatkan bahwa ancaman zoonosis bukanlah sekadar kekhawatiran masa depan, melainkan krisis yang tengah berlangsung di halaman belakang peternakan modern.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca