Gelombang panas laut kini tidak hanya mengancam ekosistem bawah air, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan manusia. Studi terbaru memperingatkan bahwa kenaikan suhu laut yang ekstrem dapat memicu badai yang lebih kuat, ledakan alga beracun, hingga gangguan kesehatan mental yang serius pada masyarakat pesisir.
Menanggapi ancaman ini, tim peneliti dari Adelaide University dan University of Hong Kong menekankan pentingnya mengategorikan gelombang panas laut sebagai isu kesehatan masyarakat yang mendesak.
Melalui makalah ilmiah yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability, Dr. Laura Falkenberg dari Adelaide University memaparkan rantai dampak buruk akibat suhu laut yang melonjak tidak normal bagi manusia. Salah satunya adalah peningkatan intensitas cuaca ekstrem. Sebagai contoh, penguatan cepat Badai Otis pada tahun 2023 yang melanda Meksiko dengan kerugian ditaksir melampaui US$15 miliar (sekitar Rp235 triliun) terbukti berkaitan dengan kondisi ini. Pada tahun yang sama, Topan Doksuri juga menerjang wilayah Asia dan berdampak pada lebih dari dua juta jiwa.
1.221 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Pemulihan Mulai Dikebut

Selain memicu cuaca buruk, suhu laut yang menghangat turut memicu ledakan alga berbahaya. Di Australia Selatan, fenomena ledakan alga ini memicu keluhan kesehatan fisik pada warga pesisir, seperti iritasi saluran pernapasan dan asma.
Dampak negatif dari ledakan alga ini juga merambah ke ranah psikologis. Pada tahun 2025, kemunculan alga beracun di Australia Selatan tercatat memicu kecemasan lingkungan (eco-anxiety) yang tinggi, yang disertai dengan rasa sedih, frustrasi, hingga depresi pada masyarakat setempat.
Pemulihan Desa Adat Sade, DPR Dorong Dukungan Anggaran dan Mitigasi Kebakaran

Secara global, situasi ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Tahun 2023 mencatatkan rekor gelombang panas laut terbesar dan terlama yang merusak ekosistem, mengganggu sektor perikanan, serta menjadi alarm bagi titik balik iklim bumi. Penelitian terbaru turut menunjukkan bahwa fenomena ini menghambat siklus karbon alami, sehingga menurunkan kapasitas lautan dalam menyerap emisi karbon dioksida (CO2).






