Wabah flu burung yang disebabkan oleh virus avian influenza highly pathogenic (HPAI) H5N1 terus meluas di berbagai belahan dunia sepanjang akhir 2024 hingga awal 2025, menyerang peternakan unggas komersial dan memicu krisis pasokan telur. Dampaknya langsung terasa di tingkat konsumen: harga telur di sejumlah negara, terutama Amerika Serikat, meroket ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini membebani anggaran rumah tangga dan memaksa banyak pelaku usaha makanan untuk menyesuaikan harga atau bahkan mengurangi penggunaan telur dalam menu mereka.
Data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan bahwa selama kuartal keempat 2024 saja, lebih dari 20 juta ayam petelur dimusnahkan akibat wabah flu burung. Angka itu menambah total puluhan juta unggas yang telah dimusnahkan sejak gelombang wabah ini mulai merebak pada 2022. Setiap kali virus terdeteksi di sebuah peternakan, seluruh populasi unggas di sana harus dimusnahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, sebuah protokol yang memang diwajibkan oleh otoritas kesehatan hewan. Akibatnya, produksi telur nasional di AS menyusut drastis sementara permintaan tetap tinggi, menciptakan tekanan besar pada harga pasar.
Transmart Gelar Full Day Sale 26 Juli, Harga Elektronik Anjlok Diskon 50% Plus 20%

Lonjakan harga itu tercermin dalam data resmi: pada Januari 2025, harga rata-rata satu lusin telur di AS mencapai 4,95 dollar AS, memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa dan naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tidak hanya terjadi di AS; negara lain seperti Jepang dan beberapa negara Eropa juga melaporkan peningkatan harga telur karena faktor serupa, meskipun dengan skala yang berbeda. Biaya pakan ternak yang ikut meningkat akibat gangguan rantai pasok global turut memperparah situasi. Di tingkat ritel, sejumlah supermarket membatasi pembelian telur per konsumen, sementara restoran dan toko roti terpaksa menaikkan harga produk atau mencari alternatif pengganti telur.
Bagi Indonesia, wabah flu burung global ini menjadi sinyal peringatan yang harus direspons meskipun sejauh ini belum ada laporan wabah massal pada peternakan ayam petelur dalam negeri di awal 2025. Kementerian Pertanian memperketat pengawasan di pintu masuk impor produk unggas dan memperkuat biosekuriti di sentra-sentra peternakan di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Harga telur ayam ras di pasar domestik masih tercatat stabil di kisaran Rp28.000–Rp30.000 per kilogram, namun kekhawatiran muncul karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan baku pakan, seperti jagung dan bungkil kedelai, yang harganya ikut terkerek oleh krisis global. Jika harga pakan terus naik, biaya produksi peternak lokal akan terdorong naik dan berpotensi menjalar ke harga telur dalam negeri.
Jejak Manis Brownies Belimbing Demak yang Naik Kelas Bersama BRI

Ke depan, para ahli memperkirakan tekanan harga telur akan bertahan setidaknya hingga pertengahan 2025 seiring dengan masih berlanjutnya wabah flu burung pada unggas liar yang menjadi sumber penularan. Upaya vaksinasi unggas sedang digulirkan di beberapa negara, termasuk Prancis dan Meksiko, sebagai strategi tambahan selain pemusnahan, meskipun efektivitasnya masih diperdebatkan di tengah munculnya sub-varian virus baru. Sementara itu, masyarakat dunia diimbau untuk tidak panik karena risiko penularan ke manusia tetap rendah menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Fokus utama tetap pada pemulihan populasi ayam petelur dan stabilisasi rantai pasok pakan, sementara konsumen diharapkan bijak berbelanja untuk menghadapi era baru fluktuasi harga pangan akibat perubahan iklim dan penyakit zoonosis yang semakin sering muncul.






