Keputusan mengejutkan datang dari pucuk pimpinan Bank Indonesia. Perry Warjiyo memilih meletakkan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia dua tahun lebih cepat dari masa bakti yang seharusnya. Langkah mendadak ini langsung memantik perhatian dunia internasional, salah satunya media asal Singapura, Channel News Asia (CNA). Sorotan global ini bukan tanpa alasan, sebab pergantian nakhoda bank sentral di tengah jalan kerap membawa konsekuensi serius bagi stabilitas ekonomi suatu negara berkembang.
Kabar pengunduran diri yang beredar pada Senin, 27 Juli 2026, langsung direspons negatif oleh pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan sempat terkoreksi hingga 0,5 persen atau melemah 32 poin ke level 6.153 sebelum akhirnya bangkit dan ditutup pada posisi 6.175. Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dengan dibuka melemah ke Rp17.972 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.935, bahkan sempat menembus angka psikologis Rp18.000 sebelum ditutup di level Rp18.009. Beruntung, kepanikan pasar segera mereda setelah pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai pelaksana tugas demi menjamin kesinambungan arah kebijakan moneter.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Langkah cepat menunjuk Destry dinilai sebagai keputusan tepat untuk meredam spekulasi. Analis Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai figur Destry yang berpengalaman dalam merumuskan kebijakan moneter memberikan sinyal positif bagi para investor. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada keputusan Presiden Prabowo Subianto dalam memilih figur definitif. Ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan pentingnya menjaga proses transisi ini tetap profesional. Jika pergantian ini ditunggangi kepentingan politik yang mengikis independensi bank sentral, dampaknya bisa menjalar ke sektor perbankan, anggaran negara, dunia usaha, hingga kesejahteraan rumah tangga.
Dari sisi formal, pihak Istana melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pengunduran diri Perry didasari oleh alasan pribadi, bukan karena faktor kesehatan. Presiden Prabowo juga telah menerima surat tersebut seraya menyampaikan apresiasi atas dedikasi Perry selama tujuh tahun memimpin otoritas moneter tersebut. Hingga kini, bursa calon pengganti mulai memanas. Laporan CNA menyebutkan beberapa nama potensial yang masuk radar, termasuk Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Siapa pun yang terpilih nantinya akan langsung dihadapkan pada tumpukan pekerjaan rumah yang berat. Pemimpin baru BI harus menjaga kestabilan rupiah di tengah proyeksi defisit anggaran yang membengkak hingga Rp734 triliun atau sekitar 40 miliar dolar AS akibat tingginya subsidi energi dan program prioritas pemerintah. Selain itu, sorotan lembaga pemeringkat internasional terhadap perubahan mandat baru BI yang baru disahkan parlemen juga menjadi tantangan tersendiri. Kredibilitas kebijakan moneter Indonesia kini dipertaruhkan pada kemampuan sang gubernur baru dalam menjaga jarak yang aman dari intervensi politik praktis.






