Mungkinkah persamuhan bilateral antara Amerika Serikat dan Korea Utara kembali terwujud di penghujung tahun ini? Pertanyaan ini mencuat setelah Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Guna memuluskan rencana tersebut, Trump bahkan mengambil langkah mendadak pada awal pekan dengan memangkas skala latihan militer gabungan antara negaranya dan Korea Selatan. Tokoh yang dilaporkan berpotensi melawat ke KTT APEC di Shenzhen, China, pada akhir tahun ini tampaknya ingin mengulang serangkaian pertemuan puncak bersejarah yang pernah diadakannya dengan Kim Jong Un pada tahun 2018 dan 2019 lalu.
Namun, upaya pendekatan dari pihak Amerika Serikat ini tidak serta-merta disambut hangat. Adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, langsung menepis narasi niat baik dari pemangkasan skala latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield tersebut. Tidak hanya itu, Kim Yo Jong juga membantah dengan tegas adanya kontak terbaru antara kakaknya dan Donald Trump. Di tengah situasi diplomasi yang dingin ini, ketegangan militer masih tetap membayang. Militer Korea Selatan mencatat bahwa Korea Utara baru saja menembakkan sekitar 10 rudal balistik di lepas pantai timurnya pada hari Kamis.
Pemerintah Bantah Tudingan Indonesia Jadi Jalur Transshipment Produk China ke Amerika Serikat

Meskipun demikian, pihak Washington menyatakan bahwa pintu komunikasi tetap terbuka lebar. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS memastikan bahwa Amerika Serikat tetap terbuka terhadap dialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat. Namun, untuk mewujudkan pertemuan tersebut, Korea Utara menuntut komitmen yang sangat berat. Menurut Jenny Town dari Stimson Center, syarat dari pihak Pyongyang mencakup perubahan besar pada kebijakan AS untuk menghapus seluruh elemen permusuhan, pengakuan mutlak atas status nuklir Korea Utara, atau minimal adanya deklarasi resmi bahwa denuklirisasi bukan lagi menjadi tujuan utama Washington.
BPS Kabupaten Kudus Petakan Fondasi Ekonomi Lewat Sensus Ekonomi 2026

Di sisi lain, posisi tawar Korea Utara saat ini terbantu oleh meroketnya hubungan dagang mereka dengan China dan Rusia yang sukses menggerakkan napas ekonominya. Hubungan erat ini juga terlihat dari langkah Pyongyang yang saat ini diketahui tengah aktif mengirim ribuan pasukan dan peralatan tempur, termasuk rudal, untuk mendukung Rusia dalam perangnya di Ukraina. Di tengah keterlibatan global ini, Hong Min dari Institut Unifikasi Nasional Korea mencatat bahwa Pyongyang sengaja menghilangkan penyebutan perang Iran di Timur Tengah agar tidak mengiritasi Donald Trump, yang saat ini sedang berupaya membuka kembali jalur komunikasi.






