Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan putaran baru tarif impor terhadap Meksiko dan Kanada yang mulai berlaku pada awal Maret 2025. Kebijakan ini diresmikan melalui perintah eksekutif sebagai bagian dari strategi 'America First' yang digaungkan selama masa kampanye. Langkah tersebut langsung memicu ketegangan diplomatik dengan dua mitra dagang utama AS, mengingat tarif baru ini menyasar komoditas strategis seperti baja, aluminium, komponen otomotif, dan produk pertanian tertentu.
Dalam pengumuman resmi di Gedung Putih, pemerintahan Trump menetapkan tarif sebesar 25 persen untuk seluruh impor baja dan aluminium dari Meksiko dan Kanada, merujuk pada alasan keamanan nasional berdasarkan Pasal 232 Undang-Undang Perdagangan 1974. Tidak berhenti di situ, tarif tambahan sebesar 10 persen juga dikenakan pada suku cadang kendaraan serta produk hortikultura seperti tomat dan avokad asal Meksiko. Gedung Putih menyatakan kebijakan ini dipicu oleh kegagalan kedua negara dalam menghentikan aliran migran dan narkotika ke perbatasan selatan, sekaligus untuk melindungi industri domestik yang dinilai dirugikan oleh praktik subsidi.
Transmart Gelar Full Day Sale 26 Juli, Harga Elektronik Anjlok Diskon 50% Plus 20%

Dampak ekonomi dari kebijakan tarif ini langsung mengguncang rantai pasok yang sangat terintegrasi di kawasan Amerika Utara. Asosiasi Produsen Otomotif AS memperingatkan bahwa tarif suku cadang akan menaikkan biaya produksi kendaraan di pabrik-pabrik Michigan dan Ohio yang selama ini bergantung pada komponen dari pemasok di Ontario dan Nuevo León. Di sektor pangan, jaringan restoran dan distributor di Amerika Serikat menghadapi lonjakan harga avokad dan buah beri impor menjelang musim semi. Indeks pasar saham utama AS tercatat mengalami koreksi harian terdalam dalam enam bulan menyusul pengumuman tersebut, karena investor mengkhawatirkan kembalinya inflasi yang dipicu oleh biaya input impor.
Pemerintah Meksiko dan Kanada tidak tinggal diam. Presiden Meksiko menyebut tarif ini sebagai tindakan unilateral yang melanggar semangat Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA). Menlu Meksiko mengonfirmasi bahwa negaranya akan segera mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa di bawah USMCA seraya menyiapkan daftar tarif balasan untuk produk-produk ikonik AS seperti daging babi, keju, dan wiski bourbon. Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada menyatakan negaranya akan memberlakukan retaliasi sepadan senilai puluhan miliar dolar AS yang menargetkan baja AS, produk kayu, dan komoditas energi sebagai respons tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai serangan dagang yang tak berdasar.
Jejak Manis Brownies Belimbing Demak yang Naik Kelas Bersama BRI

Eskalasi tarif ini menempatkan triliunan dolar volume perdagangan intra-Amerika Utara dalam bahaya, sekaligus menguji ketahanan blok perdagangan yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Para analis menilai bahwa kebuntuan ini dapat mendorong Kanada dan Meksiko untuk mempercepat diversifikasi mitra dagang, terutama dengan Uni Eropa dan kawasan Indo-Pasifik, sebagaimana yang sudah dirintis melalui ratifikasi Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP). Sementara itu, di dalam negeri AS, fraksi Republik di Kongres yang selama ini menyokong kebijakan proteksionis mulai menghadapi tekanan dari konstituen petani dan manufaktur yang merasakan dampak langsung dari perang dagang tiga arah ini. Dunia pun kini menanti, apakah babak baru ketegangan ekonomi ini akan membuka negosiasi ulang yang memperkuat kawasan atau justru mengubur arsitektur kerja sama yang telah susah payah dibangun.






