Fenomena pelatihan kecerdasan finansial atau financial intelligence (FQ) bagi anak-anak kini tengah marak diminati oleh para orang tua di China. Keinginan untuk membentuk mentalitas kewirausahaan serta mencetak sosok 'Warren Buffett' cilik sejak usia dini menjadi dorongan utama di balik tingginya minat terhadap program ini. Untuk mengikutsertakan anak dalam pelatihan yang biasanya berlangsung selama 7 hingga 10 hari tersebut, para orang tua rela merogoh kocek cukup dalam. Biaya pendaftaran kamp FQ dibanderol mulai dari US$1.900 atau sekitar Rp34 juta per anak. Meskipun mematok tarif yang tidak sedikit, antrean pemesanan tempat untuk mengikuti kamp pelatihan tersebut kerap kali sudah terisi penuh hingga beberapa bulan sebelum kelas resmi dimulai.
Selama durasi pelatihan, para peserta mendapatkan pemaparan materi yang dirancang khusus untuk mengasah pemahaman ekonomi mereka. Di dalam ruang kelas, slogan motivasi seperti "Kemiskinan bukanlah status, melainkan pola pikir" sering kali digemakan untuk membangun mentalitas peserta. Kurikulum pelatihan mencakup materi dasar literasi keuangan, strategi pengelolaan harta, hingga simulasi bisnis terapan. Pada penyelenggaraan Daxiang Teenage FQ Summer Camp, misalnya, para instruktur membuat simulasi dinamika pasar saham, mengondisikan suasana pertemuan investor, serta merancang skenario perdagangan. Di setiap penghujung hari, para peserta diajak untuk mengevaluasi secara detail catatan keuntungan dan kerugian yang mereka alami selama simulasi berlangsung.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Selain simulasi transaksi di ruang kelas, skema pelatihan lapangan juga diterapkan dalam program kamp lain seperti FQ Little General. Dalam kegiatan ini, para peserta dibimbing untuk mengidentifikasi berbagai peluang bisnis potensial di sekitar mereka. Mereka diajak langsung untuk menjual berbagai barang kecil di kios jalanan, menyusun rencana bisnis sederhana, hingga menyiapkan laporan keuangan secara rinci. Tak berhenti di situ, beberapa penyelenggara kamp juga menawarkan program lanjutan dengan harga yang lebih tinggi. Program tingkat lanjut ini secara khusus dirancang untuk menggembleng keterampilan kepemimpinan serta kemampuan kewirausahaan yang berbasis pada bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM).
Dampak dari keikutsertaan dalam pelatihan finansial ini mendatangkan beragam tanggapan dari orang tua murid. Salah satu cerita datang dari May, seorang ibu yang bermukim di Provinsi Zhejiang. Ia mengaku menyaksikan perubahan perilaku yang positif pada diri putrinya setelah pulang dari kamp pelatihan FQ tersebut. Menurut May, putrinya yang dulu cenderung malas kini berbalik menjadi jauh lebih fokus dan giat belajar. Perubahan positif ini terjadi karena sang anak kini memiliki motivasi serta tujuan yang jelas untuk menghasilkan uang di masa depan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Kendati sebagian orang tua menilai program ini bermanfaat, tidak sedikit pula yang menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjangnya. Beberapa orang tua khawatir anak-anak mereka justru tumbuh menjadi pribadi yang terlalu berorientasi pada uang. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab beberapa peserta dilaporkan mulai meminta imbalan finansial kepada orang tua mereka setiap kali selesai mengerjakan tugas sekolah atau menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Di samping itu, kritik tajam juga disampaikan oleh seorang ibu di Henan. Ia menilai bahwa kamp-kamp tersebut cenderung menciptakan ilusi kesuksesan yang instan bagi anak-anak. Menurutnya, simulasi di dalam kamp tidak mencerminkan realitas dunia usaha yang sebenarnya, di mana mayoritas bisnis rintisan justru menghadapi risiko kegagalan.






