Bagaimana menyulap kawasan pedesaan yang sepi dan dipenuhi bangunan tua menjadi destinasi wisata premium yang menghasilkan keuntungan ekonomi besar? Pertanyaan ini sering kali menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang yang ingin memajukan wilayah pinggirannya tanpa menggusur kearifan lokal. Jawabannya dapat ditemukan di Provinsi Guangdong, China, di mana integrasi antara pelestarian desa kuno dan industri pariwisata modern terbukti mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan.
Melalui pendekatan penataan kawasan, sebuah proyek pariwisata bernama Sanhe Daoli Hot Spring Resort berhasil mengubah wajah Desa Sanhe yang terletak di Kota Sankeng, Distrik Qingxin. Kawasan resort pemandian air panas terpadu ini sekarang berdiri megah di atas lahan seluas 130 hektare. Proyek ini tidak dibangun dengan meruntuhkan seluruh wilayah, melainkan memanfaatkan aset lokal yang sudah ada. Sebanyak 30 rumah pertanian tua, lahan kosong seluas 30 hektare, lahan pertanian seluas 70 hektare, serta area tambak ikan disulap menjadi fasilitas peristirahatan kelas atas dengan melibatkan investasi dari Qingyuan Daoli Hotel Management Co., Ltd.
Langkah integrasi ini bertujuan untuk menyatukan arsitektur kuno dan pemukiman bersejarah dengan industri pemandian air panas modern. Hasilnya sangat signifikan bagi perekonomian lokal. Lin Weiqiang, selaku General Manager Sanhe Daoli Hot Spring Resort dari Guangzhou White Swan Hotel Management Co., Ltd., mengelola fasilitas yang kini menawarkan tarif kamar eksklusif. Untuk tipe kamar termahal di resort ini, harga sewanya bahkan bisa menyentuh angka Rp25 juta per malam, sebuah nilai yang menunjukkan tingginya potensi pasar wisata premium di kawasan pedesaan tersebut.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Keberhasilan transformasi pedesaan ini dipamerkan langsung kepada dunia internasional melalui program ASEAN Media China Tour: Dynamic Guangdong. Program ini diikuti oleh delegasi yang terdiri dari 20 jurnalis dan pembuat konten (influencer) dari berbagai negara Asia Tenggara yang tiba di Guangdong pada Ahad, 26 Juli 2026. Kunjungan ini juga dirancang sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyambut perhelatan akbar APEC China 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 mendatang.
Namun, upaya pengembangan dan kunjungan wisata ini tidak lepas dari tantangan alam. Sebelum rombongan delegasi tiba, wilayah China bagian selatan baru saja dihantam oleh Topan Noul, sebuah badai dengan kategori 10. Bencana alam ini sempat melumpuhkan aktivitas transportasi dengan mengganggu ratusan rute perjalanan dari dan menuju wilayah selatan China serta Hongkong. Selain memicu evakuasi sekitar 200 ribu warga demi keselamatan, topan tersebut juga memaksa pembatalan lebih dari 350 penerbangan di wilayah terdampak.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Dampak dari embusan angin kencang Topan Noul juga dirasakan langsung di area resort. Lin Weiqiang mengonfirmasi bahwa angin kencang akibat badai tersebut merusak tanaman padi yang berada di kawasan pertanian sekitar resort. Meskipun demikian, lewatnya badai ini membawa perubahan cuaca yang cukup drastis bagi wilayah Guangdong, di mana suhu udara yang awalnya berkisar pada 38 derajat Celsius langsung turun menjadi 25 derajat Celsius saat rombongan delegasi ASEAN tiba di lokasi. Transformasi pedesaan di Guangdong ini memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sektor swasta dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan guna menggerakkan ekonomi lokal, sekalipun harus berhadapan dengan risiko cuaca ekstrem.






