Pasar komoditas global kembali menunjukkan dinamika yang bergejolak pada penutupan transaksi hari Senin (27/7). Di tengah tren koreksi yang melanda mayoritas sektor energi dan logam industri, hanya segelintir komoditas yang mampu bertahan di zona hijau. Timah menjadi satu-satunya komoditas logam yang mencatatkan rapor positif, meskipun kenaikannya tergolong sangat tipis. Di sisi lain, komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) harus rela menyusut nilainya akibat berbagai tekanan pasar eksternal.
Pelemahan yang cukup signifikan terjadi pada sektor energi, khususnya batu bara. Berdasarkan rujukan data perdagangan dari Barchart, harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 merosot sebesar 2,14 persen. Koreksi ini menyeret harga emas hitam tersebut ke posisi USD 132,50 per ton. Tren penurunan ini juga diikuti oleh komoditas nikel di London Metal Exchange (LME). Harga logam yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik ini terkikis 0,96 persen, sehingga terparkir di level USD 17.213 per ton pada akhir perdagangan.
Tidak hanya logam industri, sektor komoditas pertanian andalan Asia Tenggara juga mengalami tekanan hebat. Harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO di bursa berjangka Malaysia jatuh di bawah level psikologis MYR 4.700 per ton, tepatnya bertengger di angka MYR 4.673 per ton setelah melemah 1,04 persen. Penurunan ini sekaligus mematahkan reli penguatan CPO yang sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak awal April lalu. Para analis menilai, aksi ambil untung (profit-taking) oleh para pelaku pasar menjadi pemicu utama kejatuhan ini, yang diperparah oleh penguatan mata uang ringgit Malaysia serta melemahnya harga minyak nabati kompetitor di bursa Dalian dan Chicago.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Faktor geopolitik global turut andil dalam menekan pergerakan harga CPO. Harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik di kawasan Timur Tengah memicu ekspektasi bahwa jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz akan kembali lancar. Sentimen ini langsung berimbas pada anjloknya harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya menyeret turun harga komoditas substitusinya, termasuk minyak sawit. Kendati demikian, kejatuhan harga CPO yang lebih dalam berhasil diredam oleh rilis data ekspor yang cukup menggembirakan. Lembaga survei kargo Intertek Testing Services (ITS) melaporkan adanya lonjakan ekspor minyak sawit sebesar 15,9 persen sepanjang periode 1-25 Juli jika dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Juni.
Selain kinerja ekspor yang solid, prospek konsumsi jangka panjang CPO juga masih ditopang oleh kebijakan domestik di negara produsen utama. Rencana peningkatan mandatori campuran biodiesel di Indonesia dan Malaysia diyakini akan menjaga tingkat penyerapan pasar domestik tetap tinggi. Dari sisi global, India selaku importir minyak nabati terbesar di dunia diproyeksikan akan meningkatkan volume pembelian mereka pada periode Juli hingga Oktober demi mengamankan pasokan menjelang musim festival. Kekhawatiran akan faktor cuaca ekstrem di Kuala Lumpur yang berpotensi memangkas produktivitas kelapa sawit tahun depan juga turut menjadi benteng pertahanan bagi harga CPO di pasar berjangka.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Di tengah fluktuasi tajam yang dialami komoditas lain, timah justru memperlihatkan daya tahan yang menarik. Berdasarkan data dari platform Tradingeconomics, harga logam timah sukses membukukan kenaikan tipis sebesar 0,85 persen pada sesi perdagangan yang sama. Pertumbuhan minor ini sudah cukup untuk membawa komoditas timah bertengger di level USD 53.781 per ton. Meskipun lajunya terbilang stagnan, pencapaian ini menegaskan posisi timah sebagai pengecualian di tengah lesunya transaksi pasar komoditas global awal pekan ini.






