Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk memindahkan kapal induk USS George Washington dari posisinya di kawasan Indo-Pasifik menuju ke wilayah Timur Tengah. Langkah pemindahan kekuatan militer ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah dinamika keamanan global yang sedang memanas. Berdasarkan rencana operasionalnya, kapal induk USS George Washington ini diperkirakan akan menggantikan posisi kapal induk lainnya, yaitu USS Abraham Lincoln, yang saat ini sedang bertugas di kawasan Timur Tengah tersebut.
Keputusan untuk melakukan rotasi dan menggantikan USS Abraham Lincoln ini diduga berkaitan erat dengan kondisi kesejahteraan para kru yang berada di dalamnya. Di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, terdapat sekitar 5.000 personel yang terdiri dari pelaut dan Marinir. Laporan terbaru menunjukkan bahwa para kru di kapal tersebut sedang menghadapi situasi yang sangat menantang dan memprihatinkan. Mereka dilaporkan mengalami masalah menipisnya persediaan logistik untuk kebutuhan operasional sehari-hari. Selain masalah logistik, kondisi kesehatan mental dari para awak kapal juga dikabarkan terus mengalami penurunan atau memburuk. Kondisi ini semakin dipicu oleh situasi di mana para pelaut dan Marinir tersebut tercatat belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di daratan sejak bulan Desember.
Serikat Pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan Gelar Aksi Mogok Kerja Penuh Pertama dalam Satu Dekade

Pemindahan USS George Washington dari wilayah Indo-Pasifik ke Timur Tengah ini kemudian memicu kekhawatiran mendalam dari kalangan internal militer Amerika Serikat sendiri. Mantan Komandan Carrier Strike Group 5, Laksamana Muda (Purnawirawan) Mark Montgomery, memberikan peringatan keras mengenai dampak dari kebijakan ini. Montgomery memperingatkan bahwa pengerahan kapal induk USS George Washington ke Timur Tengah dapat menjadi sebuah risiko keamanan nasional yang nyata bagi Amerika Serikat. Penarikan aset pertahanan utama dari kawasan Indo-Pasifik secara keseluruhan dianggap dapat menciptakan celah kerawanan baru bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Kabut Asap Memburuk, Ratusan Sekolah di Sarawak Malaysia Ditutup Darurat

Lebih lanjut, Montgomery menjelaskan bahwa keputusan pemindahan kapal induk ini mengirimkan pesan pencegahan yang sangat lemah kepada China. Dengan berkurangnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik, pesan pencegahan terhadap potensi ancaman dari China dinilai tidak akan berjalan efektif. Selain itu, Montgomery juga menegaskan bahwa langkah pengerahan ini tidak memberikan jaminan keamanan yang memadai bagi negara-negara sekutu serta mitra-mitra strategis Amerika Serikat yang berada di kawasan Pasifik. Ketidakadaan kapal induk di wilayah tersebut dinilai dapat mengurangi tingkat kepercayaan para sekutu terhadap komitmen pertahanan yang dijanjikan oleh pihak Amerika Serikat di kawasan Pasifik.






