PT Bank DBS Indonesia meyakini bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang besar untuk bangkit dan kembali ke level 8.000 pada akhir tahun ini. Proyeksi optimistis tersebut memberikan harapan baru di tengah kondisi pasar saham domestik yang sedang mengalami tekanan cukup berat sepanjang tahun berjalan. Hingga saat ini, pergerakan IHSG tercatat telah anjlok sekitar 29 persen secara year-to-date (YTD), yang membawa indeks ke posisi saat ini di kisaran level 6.100. Kerosotan yang cukup tajam ini memicu perhatian dari berbagai kalangan pelaku pasar dan analis keuangan.
Dalam pemaparannya pada acara Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 yang diselenggarakan di Westin Hotel Jakarta pada Rabu, 29 Juli 2026, Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra, memberikan analisis mengenai situasi pasar modal dalam negeri saat ini. William menilai bahwa posisi IHSG yang berada di kisaran level 6.100 saat ini sudah bersifat jenuh jual atau oversold. Menurut pandangannya, kondisi jenuh jual ini mengindikasikan bahwa penurunan harga saham sudah terlalu dalam dan tidak mencerminkan nilai wajarnya, sehingga membuka peluang terjadinya pembalikan arah menuju target akhir tahun.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Pelemahan IHSG sepanjang tahun ini menunjukkan adanya perbedaan kinerja yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan bursa saham di wilayah atau negara lain. Tercatat ada selisih sekitar 50 persen antara kinerja IHSG yang terpuruk dengan pasar-pasar saham lain di dunia yang justru bergerak naik lebih dari 20 persen. Selain faktor domestik, tekanan pada pasar modal ini juga dipengaruhi oleh sentimen negatif dari luar negeri, termasuk laporan kinerja keuangan dari salah satu raksasa teknologi global, SK Hynix Co. Ltd., yang kinerjanya dilaporkan meleset dari perkiraan pasar.
Meskipun pergerakan indeks saham gabungan mengalami penurunan yang signifikan secara persentase, kinerja fundamental korporasi di Indonesia sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup sehat. Pada kuartal pertama tahun ini, laba bersih perusahaan tercatat masih mampu tumbuh positif sebesar 7,5 persen secara tahunan (year-on-year). Untuk periode selanjutnya, proyeksi pertumbuhan laba perusahaan diperkirakan akan berada di kisaran 4,4 persen. Seiring dengan perkembangan tersebut, PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan Price To Earnings Ratio (P/E) pasar saham Indonesia bakal mencapai level 13x pada akhir tahun.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Dalam peta investasi global, Indonesia sendiri tetap diklasifikasikan ke dalam kategori pasar negara berkembang (emerging market) berdasarkan klasifikasi MSCI. Posisi ini terus dipertahankan sejak Indonesia mendapatkan peringkat investasi untuk pertama kalinya pada tahun 2017. Meskipun ada optimisme bahwa IHSG dapat kembali menyentuh level 8.000, para pelaku pasar tetap harus mencermati berbagai faktor ketidakpastian ekonomi. Salah satu tantangan yang diproyeksikan adalah nilai tukar rupiah yang diperkirakan akan berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, yang berpotensi memengaruhi dinamika aliran modal asing di pasar keuangan domestik.






