Sebelas wisatawan mancanegara berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah terapung-apung di perairan Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, pada Sabtu dini hari. Mereka terombang-ambing di tengah laut sejak Jumat malam, ketika speedboat yang mereka tumpangi tiba-tiba patah menjadi dua bagian dan langsung tenggelam. “Alhamdulillah, semua korban WNA ditemukan dengan selamat,” ujar Kepala Kantor Basarnas Gorontalo Heriyanto, Sabtu (25/7). Penemuan ini menjadi akhir dari pengalaman menegangkan para pelancong yang nyaris kehilangan nyawa di perairan yang terkenal dengan arusnya itu.
Kisah mencekam ini bermula pada Jumat (24/7) pagi. Sebuah speedboat berangkat dari salah satu resort di Tojo Una-Una menuju Pelabuhan Marisa, Gorontalo, dengan membawa 11 orang WNA serta dua awak kapal, termasuk nakhoda bernama Ardiansyah. Menurut rencana, kapal tersebut semestinya merapat di Marisa sekitar pukul 11.00 WITA. Namun, hingga pukul 15.00 WITA, rombongan yang ditunggu di dermaga tak kunjung muncul. Kecemasan mulai terasa, dan pemandu wisata yang bertanggung jawab langsung melaporkan ketidakhadiran kapal itu kepada aparat kepolisian setempat. Informasi itu terus bergulir hingga akhirnya diterima oleh Kantor Basarnas Gorontalo pada Jumat petang.
Lima Hari Tanpa Kabar, Jasad Juru Parkir Ditemukan Membusuk di Gang Buntu

Begitu laporan masuk, tim SAR sigap merencanakan operasi pencarian. Namun, gelapnya malam dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat memaksa operasi baru bisa digelar keesokan harinya. Sabtu pagi, Basarnas membentuk tiga unit reaksi cepat (SRU) dengan skala pencarian yang luas. SRU 1 menggunakan KN KAL Limboto menyisir lebih dari 200 mil laut persegi dari Pelabuhan Gorontalo. Sementara itu, SRU 2 dengan RIB 03 Gorontalo dan SRU 3 menggunakan speedboat masing-masing memeriksa area sekitar 50 mil laut persegi di lintasan pelayaran. Langkah terpadu ini diambil untuk mempercepat penemuan sebelum cuaca kembali memburuk.
Setelah pencarian yang intens, gema kegembiraan terdengar ketika seluruh WNA berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup. Mereka langsung dibawa menuju resort di kawasan Tojo Una-Una untuk mendapatkan perawatan medis dan pemulihan. Meski begitu, duka masih menyelimuti operasi SAR. Seorang awak kapal, nakhoda Ardiansyah, hingga kini belum ditemukan. “Masih ada satu yaitu nakhodanya masih hilang. Kami akan terus melaksanakan pencarian operasi SAR sesuai dengan SOP kami, 7 hari,” tegas Heriyanto. Komitmen untuk menemukan sang nakhoda menjadi fokus utama tim gabungan yang terus berjibaku di lapangan.
Dari Sungai Lolipop Stroberi ke Panggung Spontan, Ketika Dongeng Menjadi Guru Terbaik untuk Anak

Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan, speedboat nahas itu patah menjadi dua bagian setelah dihantam ombak ganas di Teluk Tomini. Insiden ini kembali menyoroti risiko perjalanan laut di kawasan wisata yang belum memiliki standar keselamatan memadai. Sembari doa terus dipanjatkan untuk keselamatan nakhoda yang hilang, peristiwa ini menjadi pengingat betapa cepatnya nasib berubah di lautan — dari sebuah perjalanan wisata biasa menjadi pertaruhan hidup yang menegangkan.






