Di tengah gelombang proteksionisme yang memaksa banyak negara menutup keran ekspor pangannya, Indonesia justru menyampaikan kabar sebaliknya. Sabtu (25/7) dalam Kongres Umat Islam Indonesia VIII di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membeberkan potret stok strategis nasional yang disebutnya kini dalam posisi aman dan surplus. Sorotan terbesarnya adalah lonjakan dramatis persediaan beras.
Bila tahun lalu Indonesia masih mengimpor 4,5 juta ton, tahun ini angka itu lenyap. Sebagai gantinya, produksi domestik melejit hingga menghasilkan kelebihan 4,2 juta ton. Pria yang akrab disapa Zulhas ini memastikan, rapor biru tidak berhenti pada beras. Komoditas lain seperti jagung, gula konsumsi, telur, daging ayam, hingga hasil perikanan telah mencapai titik kemandirian pasokan鈥攕esuatu yang sulit dibayangkan saat ketergantungan pada pasar global masih menjadi arus utama.
Zulhas tidak menutupi keresahannya terhadap dinamika geopolitik mutakhir. Perang dagang dan kebijakan proteksi yang diambil negara-negara produsen pangan, tegasnya, membuat konsep pasar bebas yang mengagungkan kebebasan bertransaksi menjadi terlalu naif. Di hadapan peserta kongres, ia mengingatkan bahwa dalam pusaran krisis semacam ini tidak ada negara lain yang bisa diandalkan. Pertolongan, ia meyakini, hanya mungkin datang dari kemampuan negeri sendiri untuk menanam, memanen, dan menyimpan hasil buminya.
Belum Genap Dua Pekan Melantai, Direktur RANS Mundur

Jalan menuju kemandirian itu ditempuh dengan mengoreksi sejumlah kebijakan masa lampau. Zulhas menyoroti era ketika impor dimanjakan, petani kehilangan nilai ekonomi, lahan pertanian tergerus, dan mantan pemilik tanah terpaksa menjadi buruh di lahan sendiri. Sekarang arahnya dibalik: harga gabah diperbaiki, akses pupuk dipermudah. Perubahan orientasi itu, klaimnya, langsung berdampak pada akselerasi produksi. Swasembada bukan lagi jargon, melainkan penanda harga diri. "Itu kehormatan petani, keluarga kita," ujarnya, menggarisbawahi bahwa kedaulatan pangan adalah wajah kehormatan bangsa, bukan sekadar neraca ekonomi.
Namun Zulhas tidak ingin bangsa ini berpuas diri pada urusan perut. Dari panggung yang sama, ia mengabarkan bahwa fokus kebijakan kini meluncur ke kedaulatan energi. Campuran biodiesel telah diterapkan pada solar, dan langkah berikutnya adalah menghadirkan bensin bercampur etanol secara bertahap, dimulai dari E10. Bahan baku etanol itu, katanya merinci, bisa diperoleh dari singkong, jagung, atau tebu鈥攕emua produk pertanian yang sedang digenjot surplusnya. Simpulnya jelas: ketahanan pangan dan energi harus diikat dalam satu napas agar republik ini bisa berdiri kokoh di atas kaki sendiri.
Bayar Rp12 Ribu untuk Peralatan Makan, Transmart Perang Diskon Pakai Jurus Belanja Minimum

Forum keislaman ini pun ia jadikan ruang untuk mengajak umat memikirkan ulang tantangan paling mendasar yang dihadapi petani dan nelayan. Bukan saja tentang harga dan pupuk, tetapi juga tentang menyalakan kembali kebanggaan pada mereka yang bekerja di sektor paling hulu. Di titik inilah Zulhas seakan merangkai benang antara tanah, meja makan, dan tangki bensin; sebuah ikhtiar panjang yang diyakininya baru selesai ketika makanan dan energi tak lagi bisa dijadikan alat tekan oleh pihak mana pun.






