JAKARTA - Chief Investment Office (CIO) DBS telah merilis laporan terbaru mengenai kondisi pasar terkini serta pandangan investasi untuk periode kuartal III-2026. Dalam analisisnya, DBS menyoroti bahwa perekonomian global saat ini tengah memasuki siklus super belanja modal (capex) baru yang didorong oleh fase ekspansi ganda, yakni di sektor kecerdasan buatan (AI) dan sektor energi. Momentum ini dipandang sebagai peluang strategis bagi para investor untuk menata ulang portofolio mereka.
Berdasarkan hasil riset DBS selama 18 bulan terakhir, terdapat kesenjangan yang terpantau semakin melebar antara ekspektasi politik dan hasil kebijakan yang nyata. Kesenjangan ini terutama terlihat pada isu-isu geopolitik, disiplin fiskal, serta pergerakan inflasi. Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, menjelaskan bahwa bauran kebijakan yang diterapkan Amerika Serikat (AS) saat ini belum berhasil meredakan ketegangan global maupun memulihkan kebijakan fiskal yang penuh kehati-hatian. Sebaliknya, bauran kebijakan tersebut justru berkontribusi pada peningkatan risiko geopolitik, pembengkakan belanja pertahanan, serta defisit anggaran yang melebar secara struktural.
Di samping itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut membawa konsekuensi makroekonomi yang signifikan bagi pasar global. Dalam keterangan resminya pada Selasa (7/7/2026), Hou Wey Fook memaparkan bahwa konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut telah meningkatkan risiko bertahannya harga energi di tingkat yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Kerentanan pada pasokan minyak bumi global juga semakin terlihat jelas di tengah tren penurunan persediaan cadangan minyak saat ini.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Dalam jangka pendek, tekanan inflasi global juga dipicu oleh investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan (AI). Pembangunan infrastruktur teknologi yang masif secara langsung meningkatkan permintaan terhadap berbagai kebutuhan penunjang, mulai dari perangkat lunak, komponen elektronik, hingga konsumsi daya listrik. Di sisi lain, inflasi juga didorong oleh keluarnya Tiongkok secara bertahap dari zona deflasi. Stabilisasi tekanan harga di Tiongkok ini didukung oleh penerapan kebijakan anti-involusi domestik serta kenaikan biaya input komoditas yang dipicu oleh krisis Iran. Merespons kondisi tersebut, bank-bank sentral utama dunia鈥攖ermasuk Federal Reserve (the Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank Sentral Inggris (BOE)鈥攌ini mulai mengubah haluan kebijakan mereka menjadi lebih hawkish atau netral.
Untuk menghadapi situasi pasar yang penuh tantangan ini, DBS merekomendasikan strategi diversifikasi aset guna meminimalisasi risiko. Emas, eksposur selektif pada komoditas, serta saham domestik Tiongkok dinilai menawarkan manfaat diversifikasi yang baik karena memiliki korelasi yang cenderung lebih rendah dengan pergerakan ekuitas global. Lebih lanjut, guna menangkap peluang dari tingginya intensitas capex global, DBS lebih memilih emiten penyedia sarana penunjang (tipe "pick-and-shovel"). Sektor-sektor spesifik yang diunggulkan mencakup ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan minyak.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Sebagai lembaga keuangan yang terus memperkuat layanan manajemen kekayaannya, Bank DBS Indonesia baru-baru ini berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi pada tahun 2026. Penghargaan tersebut meliputi 'Indonesia's Best Private Bank 2026' dari FinanceAsia, 'Best Priority Banking Experience 2026' dari Asian Banking & Finance, serta predikat 'Best Wealth Manager Highly Commended' dari The Asset. Pencapaian ini memperkuat komitmen DBS dalam mendampingi nasabah mengelola portofolio investasi di tengah dinamika ekonomi global.






