Bagaimana nasib kesepakatan bisnis raksasa ketika proses hukum memaksa pelaksanaannya tertunda selama bertahun-tahun? Pertanyaan ini kini membayangi Paramount Global dalam upayanya mengakuisisi Warner Bros. Discovery (WBD) senilai 110 miliar dolar AS. Setelah hakim federal menetapkan jadwal persidangan antimonopoli pada Maret 2027, Paramount harus bersiap menghadapi pembengkakan biaya keterlambatan (ticking fees) fantastis yang diperkirakan melampaui 1 miliar dolar AS sebelum putusan akhir dijatuhkan.
Keputusan penjadwalan tersebut dikeluarkan oleh Hakim Federal Araceli Martínez-Olguín. Persidangan rencananya akan dimulai pada Selasa, 2 Maret 2027, dan dijadwalkan berlangsung selama 12 hari kerja pengadilan. Sebelumnya, Hakim Martínez-Olguín telah mengeluarkan perintah penangguhan sementara terhadap rencana merger tersebut. Paramount akhirnya menyetujui penundaan proses merger hingga adanya putusan pengadilan atau setidaknya sampai Juni 2027, meskipun awalnya perusahaan menargetkan penandatanganan kesepakatan dapat diselesaikan pada musim panas ini.
Penundaan yang berlarut-larut ini mendatangkan konsekuensi finansial yang sangat berat bagi Paramount. Berdasarkan perjanjian merger yang disepakati kedua belah pihak, Paramount wajib membayar biaya keterlambatan kepada para pemegang saham WBD sekitar 7 juta dolar AS untuk setiap hari penundaan setelah tanggal 30 September. Dengan jadwal persidangan yang baru dimulai pada Maret 2027, akumulasi denda harian tersebut dipastikan akan menembus angka 1 miliar dolar AS sebelum hakim mengeluarkan keputusan hukum final.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Langkah hukum untuk membatalkan merger ini diprakarsai oleh koalisi jaksa agung negara bagian bersama dengan serikat penulis Writers Guild of America, yang mengajukan gugatan pada pertengahan Juli lalu. Mereka menilai penggabungan dua raksasa media ini berpotensi memicu monopoli pasar yang merugikan. Juru bicara Jaksa Agung California, Rob Bonta, menyatakan bahwa gugatan terhadap merger Warner Bros. dan Paramount ini merupakan kasus antimonopoli yang jelas dan tidak sah menurut hukum federal.
Di sisi lain, CEO Paramount David Ellison berupaya keras mempertahankan kesepakatan tersebut. Melalui kolom opini di The New York Times, Ellison membela rencana akuisisi ini dan berjanji akan tetap menjaga independensi redaksi CNN, yang merupakan anak perusahaan WBD. Sebelum mencapai titik ini, perebutan WBD berlangsung sengit. Netflix sempat mengajukan penawaran tunai penuh senilai 27,75 dolar AS per saham demi menjegal upaya akuisisi paksa dari Paramount. Namun, Ellison meluncurkan gugatan hukum serta upaya akuisisi paksa (hostile takeover) terhadap WBD untuk memblokir kesepakatan dengan Netflix tersebut. Paramount kemudian menaikkan tawarannya menjadi 31 dolar AS per saham, yang akhirnya memaksa Netflix membatalkan tawaran akuisisi mereka secara resmi.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Ketegangan regulasi antimonopoli di Amerika Serikat dan global belakangan ini memang sedang meningkat tajam. Selain kasus Paramount-WBD, maskapai JetBlue dan Spirit Airlines juga secara resmi membatalkan merger mereka sekitar enam minggu setelah hakim federal memutuskan tindakan tersebut melanggar undang-undang antimonopoli AS. Sementara itu, raksasa promotor konser Live Nation telah mencapai kesepakatan tentatif dengan Departemen Kehakiman AS terkait kasus serupa. Di tingkat internasional, Uni Eropa juga menjatuhkan denda lebih dari 1,8 miliar euro atau sekitar 1,9 miliar dolar AS kepada Apple pada Senin (4/3) atas pelanggaran persaingan usaha.






