Apakah keberhasilan pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara mampu menarik minat investor asing untuk menggarap proyek bandar udara lainnya di Indonesia? Jawabannya kini mulai terlihat seiring dengan ketertarikan raksasa infrastruktur asal India untuk memperluas portofolio bisnis mereka di tanah air. Dengan rekam jejak operasi dan kemitraan yang mencakup India, Indonesia, Filipina, hingga Yunani, langkah strategis kelompok usaha ini tentu menjadi sorotan penting bagi perkembangan konektivitas udara nasional.
GMR Airports Limited secara terbuka menyatakan minatnya untuk memperluas investasi di sektor penerbangan Indonesia. Kendati demikian, realisasi ekspansi ini masih sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Perusahaan multinasional tersebut bersedia meningkatkan komitmen investasinya apabila pemerintah membuka peluang yang lebih besar bagi keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan bandara di berbagai wilayah Indonesia.
Langkah GMR Airports di Indonesia sejauh ini telah berjalan melalui kemitraan strategis dengan PT Angkasa Pura II dalam mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu. Kerja sama ini diwujudkan melalui pembentukan perusahaan patungan bernama PT Angkasa Pura Aviasi di bawah skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dalam struktur kepemilikan saham entitas tersebut, PT Angkasa Pura II memegang kendali mayoritas sebesar 51 persen, sementara GMR Airports menguasai 49 persen kepemilikan saham.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Pengembangan Bandara Kualanamu sendiri difokuskan untuk menjadikannya sebagai salah satu hub penerbangan internasional utama di kawasan barat Indonesia, sekaligus memperkuat konektivitas udara menuju Asia Selatan. Prospek pertumbuhan di bandara ini terus menunjukkan tren positif. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025, Kualanamu telah melayani sekitar 2 juta penumpang internasional, meningkat dari 1,85 juta penumpang pada tahun sebelumnya. Selain itu, PT Angkasa Pura Aviasi mencatat sebanyak 391.032 penumpang domestik dan internasional melintasi bandara ini pada periode 13 hingga 28 Maret.
Konektivitas di Kualanamu juga terus diperluas dengan reaktivasi rute penerbangan Kualanamu (KNO) menuju Rembele (TXE) yang diresmikan kembali oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin. Rute penerbangan ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 23 Juli 2025 guna mendorong sektor pariwisata dan perekonomian di kedua wilayah tersebut. Di samping itu, maskapai asal Singapura, Scoot, juga dijadwalkan membuka rute penerbangan langsung Kualanamu-Singapura mulai 1 Februari 2026.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Srinivas Bommidala, selaku Business Chairman of International Airports & Energy di GMR Group, menilai bahwa pembukaan penerbangan langsung antara Indonesia dan India dapat menjadi katalis penting bagi penguatan hubungan bilateral kedua negara, terutama dalam memacu aktivitas ekonomi. Komitmen ini diperkuat dengan prioritas yang diberikan kepada Indonesia dalam pengembangan jaringan penerbangan internasional di Bandara Internasional Alluri Sitarama Raju, yang juga dikenal sebagai Bandara Bhogapuram, di Andhra Pradesh, India. Bandara tersebut baru saja diresmikan pada 1 Agustus 2026 dan dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 17 Agustus 2026.
Optimisme GMR Group untuk terus berekspansi di Indonesia juga didukung oleh perbaikan iklim investasi domestik. Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dinilai menjadi faktor krusial yang dapat meningkatkan kepercayaan investor asing. Ditambah lagi dengan target bergulirnya perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eropa pada tahun depan, potensi kemitraan global di sektor infrastruktur transportasi udara Indonesia diproyeksikan akan semakin terbuka lebar.






