Fajar belum lagi merekah di langit Bengkulu ketika tim kecil berpakaian preman meninggalkan sebuah rumah di kawasan elite kota. Selama sembilan jam, sejak Sabtu malam hingga menjelang subuh, mereka bekerja dalam sunyi. Bukan untuk perkara baru, melainkan membentangkan benang kusut dari operasi tangkap tangan yang terjadi empat bulan sebelumnya di Rejang Lebong. Operasi itu telah menyeret Bupati nonaktif Muhammad Fikri Thobari. Kini, arah angin penyidikan berbelok mengarah ke jantung Pemerintahan Kota Bengkulu, tepatnya ke kediaman Noprisman, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
Kedatangan penyidik ke rumah dinas dan pribadi pihak-pihak terkait bukan tanpa alasan kuat. Menurut Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, langkah ini adalah bagian dari pengembangan penyidikan yang membidik dugaan penerimaan hadiah atau janji oleh penyelenggara negara di lingkungan Pemkot Bengkulu. Tak hanya menyasar pejabat, tim juga mendatangi kantor dan rumah pengusaha yang bergerak di bidang alat kesehatan serta pengelolaan limbah. Spektrum penggeledahan yang melebar ini menunjukkan bahwa kasus berawal dari Rejang Lebong tersebut kini merambat ke sektor lain dan melibatkan lebih banyak aktor dari perkiraan publik sebelumnya.
Bukan Mobil Dinas, Alphard di Pusaran Cekcok Satpam Itu Milik Pribadi

Puncaknya terjadi saat pemeriksaan di rumah Kepala Dinas PUPR. Di balik dinding rumah yang tenang, tim penyidik menemukan uang tunai dalam bentuk rupiah dengan nominal fantastis: lebih dari Rp4 miliar. Jumlah itu melampaui batas wajar penerimaan seorang pejabat eselon dua. Visual lembaran-lembaran uang yang ditemukan di rumah seorang pejabat perencana infrastruktur ini sontak menimbulkan banyak tanya, terutama mengenai proyek-proyek besar apa saja yang selama ini berada di bawah kendali dinas tersebut dan apakah nilainya sebanding dengan tumpukan rupiah yang diamankan.
Selain uang tunai, penyidik juga mengamankan setumpuk dokumen dan berbagai bukti elektronik yang diduga menyimpan kunci untuk mengurai skema korupsi yang lebih sistemik. Budi Prasetyo menekankan bahwa pencarian barang bukti tambahan ini krusial untuk melengkapi berkas pengembangan perkara. Meski penggeledahan berlangsung dramatis dan menyita perhatian, KPK menegaskan bahwa hingga hari ini belum ada tersangka baru yang diumumkan ke publik. Perkara masih berfokus pada M. Fikri Thobari dan empat tersangka awal, meski bayang-bayang kejutan kian menguat seiring bertambahnya jumlah barang bukti yang disita.
Alphard Pribadi Berselimut Pelat Curian, Profesionalisme Polisi Diuji Publik

Strategi KPK dalam mengusut kasus ini membuktikan bahwa operasi tangkap tangan bukan hanya soal menindak pelaku yang terpergok saat itu juga. Budi mengingatkan bahwa momentum itu sering menjadi pintu masuk untuk membongkar perkara yang lebih besar dan tidak terbatas pada satu wilayah administratif. Kasus yang bermula dari Bupati Rejang Lebong ini perlahan menjelma menjadi panggung investigasi yang menguji ketahanan birokrasi di Kota Bengkulu. Kini, publik menunggu apakah Rp4 miliar yang disita dari rumah Kadis PUPR itu akan menjadi kunci pembuka rangkaian peristiwa korupsi baru atau justru tenggelam dalam arus panjang proses hukum.






