Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari Selasa, 28 Juli 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan domestik menyusul kabar mengenai pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Para pelaku pasar merespons negatif ketidakpastian ekonomi yang muncul akibat keputusan mendadak tersebut, sehingga menekan posisi mata uang rupiah pada perdagangan kemarin.
Berdasarkan data pasar pada Selasa (28/7/2026), mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 74 poin atau mengalami penurunan sekitar 0,41 persen. Dengan pelemahan tersebut, kurs rupiah kini berada di level Rp 18.083 per dolar AS. Posisi penutupan ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan hari perdagangan sebelumnya, di mana nilai tukar rupiah masih bertahan di level Rp 18.009 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan analisisnya mengenai situasi ini. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak lepas dari respons negatif pasar terhadap ketidakpastian ekonomi yang terjadi pasca pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak. Untuk menjaga stabilitas kepemimpinan di bank sentral, Destry Damayanti telah ditunjuk untuk mengemban tugas secara rangkap, yakni sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) BI sekaligus sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Meskipun pasar dalam negeri mengalami tekanan jangka pendek, lembaga pemeringkat internasional memberikan penilaian yang objektif. Sovereign analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, menyatakan bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya tidak memiliki dampak langsung terhadap peringkat utang atau sovereign rating Indonesia. Penilaian ini memberikan indikasi bahwa kapasitas kredit dan stabilitas makroekonomi jangka panjang Indonesia dinilai masih cukup stabil oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut.
Namun demikian, Rain Yin juga memberikan catatan mengenai prospek ke depan. Menurut Rain Yin, pengunduran diri Perry Warjiyo tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terhadap prospek kebijakan negara Indonesia. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter serta transisi kepemimpinan di Bank Indonesia menjadi salah satu faktor risiko yang kini dicermati oleh para investor dan lembaga keuangan global.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Dengan adanya perkembangan ini, fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada bagaimana langkah stabilisasi yang akan diambil oleh Destry Damayanti selaku Pejabat Sementara Gubernur BI. Upaya untuk meredam fluktuasi rupiah dan menjaga kepercayaan investor asing akan menjadi tantangan utama otoritas moneter dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan dinamika kebijakan ekonomi nasional pasca pergantian kepemimpinan ini.






