Pasar keuangan di kawasan Asia akhirnya bisa bernapas lega pada awal pekan ini. Setelah didera ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik global, bursa saham di wilayah ini serentak bergerak ke zona hijau. Angin segar ini berembus menyusul meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap konflik di Timur Tengah, khususnya menyangkut hubungan panas dingin antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat memuncak dalam dua pekan terakhir.
Aksi borong saham oleh para investor tercermin jelas pada pergerakan sejumlah indeks utama. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,24 persen dan indeks Topix terapresiasi sebesar 0,60 persen. Tren positif ini juga menjalar ke Korea Selatan, di mana indeks Kospi tumbuh 0,44 persen dan indeks saham kapitalisasi kecil Kosdaq melonjak signifikan hingga 1,49 persen. Sementara itu, indeks acuan S&P/ASX 200 di Australia turut membukukan kenaikan solid sebesar 0,97 persen. Stimulus utama dari reli ini tidak lain adalah melandainya harga minyak mentah dunia secara drastis setelah sempat melonjak tinggi.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Pemicu utama penurunan harga komoditas energi tersebut adalah pernyataan dari pihak Iran yang bersedia menghentikan serangan, dengan syarat Amerika Serikat juga menahan diri dari tindakan militer. Sinyal de-eskalasi ini langsung direspons pasar dengan penurunan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 5 persen ke kisaran 92 dolar AS per barel. Setali tiga uang, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik AS juga merosot 5 persen hingga menyentuh level 85 dolar AS per barel. Kendati demikian, ketegangan baru justru muncul di wilayah lain ketika Ukraina dilaporkan menyerang kapal komersial Iran di Laut Kaspia, sebuah insiden yang memicu kecaman keras dari Teheran terhadap Kyiv.
Di luar faktor geopolitik, para pelaku pasar kini tengah memasang mode waspada tingkat tinggi menjelang rilis laporan keuangan dari emiten-emiten raksasa dunia. Tidak hanya itu, fokus perhatian investor global juga tertuju pada pertemuan penting bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang dijadwalkan berlangsung pada tengah pekan ini. Pertemuan ini dinilai sangat krusial karena akan menentukan arah kebijakan moneter AS ke depan, terutama terkait penyesuaian suku bunga acuan yang berdampak langsung pada likuiditas global.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, mayoritas analis memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar baru akan mengerek suku bunga acuannya pada bulan September mendatang. Namun, pasar tidak menutup mata terhadap kejutan lain. Ada spekulasi kuat dan probabilitas yang cukup besar di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral pimpinan Jerome Powell tersebut bisa saja mempercepat langkahnya dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini juga. Antisipasi terhadap keputusan krusial inilah yang membuat pergerakan pasar saham Asia saat ini masih dibayangi sikap hati-hati di tengah tren penguatan jangka pendek.






