PT Freeport Indonesia (PTFI) menegaskan komitmennya dalam menjalankan operasional pertambangan secara terukur dan berkelanjutan. Perusahaan memastikan bahwa seluruh kegiatan penambangan yang dilakukan saat ini didasarkan pada perencanaan yang komprehensif, terstruktur, serta berbasis analisis mendalam. Langkah strategis ini diambil untuk menjaga efisiensi serta keselamatan operasional di area tambang, khususnya pada area tambang bawah tanah yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis data dan perencanaan matang menjadi pilar utama dalam menghadapi tantangan teknis di lapangan.
Dalam merancang target operasional, PTFI menetapkan proyeksi produksi yang spesifik untuk periode mendatang. Untuk tahun depan, PTFI menargetkan tingkat produksi komoditas utama dapat mencapai 1,3 miliar pound tembaga serta 1 juta ounces emas. Target angka produksi ini tidak dirumuskan secara instan, melainkan lahir dari proses peramalan (forecasting) yang ketat. Proses tersebut mengacu pada hasil analisis teknis yang mendalam, pemodelan geologis, serta rencana tambang (mine plan) yang telah dirancang secara berurutan guna memastikan kesinambungan operasional.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Meskipun memiliki target produksi yang jelas, PTFI menyadari adanya batasan fisik dan teknis yang tidak dapat diabaikan. Karakteristik tambang bawah tanah yang dikelola perusahaan memiliki sifat khusus yang membuat proses produksi tidak dapat dipercepat begitu saja demi mengejar target yang lebih tinggi. Setiap tahapan penambangan harus mengikuti urutan yang aman dan stabil secara geoteknis. Oleh karena itu, guna menjaga akurasi dan menyesuaikan diri dengan dinamika di lapangan, PTFI secara berkala melakukan evaluasi serta revisi terhadap proyeksi produksi mereka setiap tiga bulan sekali.
Saat ini, PTFI juga tengah menghadapi sejumlah tantangan operasional riil di area tambang bawah tanah. Salah satu hambatan utama yang sedang ditangani adalah proses pembersihan sisa lumpur yang masih membatasi akses di beberapa titik area tambang. Selain itu, kondisi material di lapangan juga menghadirkan ketidakpastian tersendiri. PTFI harus melakukan modifikasi pada sejumlah titik pengambilan bijih (draw point) lantaran kondisi material yang ditemukan ternyata jauh lebih basah jika dibandingkan dengan perkiraan awal yang dibuat pada tahap perencanaan sebelumnya.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Untuk mengatasi masalah material basah tersebut, perusahaan melakukan penyesuaian teknologi dengan memodifikasi beberapa peralatan operasional. Modifikasi ini bertujuan agar peralatan dapat menampung dan mengalirkan bijih yang basah dengan baik, sebelum akhirnya disalurkan menuju sistem kereta listrik tanpa awak yang beroperasi di bawah tanah. Melalui adaptasi teknologi dan perencanaan jangka panjang yang bahkan telah ditetapkan hingga tahun 2041, PTFI berupaya memastikan seluruh target produksi dapat dicapai secara aman dan terstruktur di tengah berbagai tantangan fisik tambang bawah tanah.






