Pemerintah terus mematangkan rencana pembangunan transportasi publik MRT Jakarta Fase 2 guna memperluas jangkauan transportasi massal di wilayah DKI Jakarta. Proyek Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota kini tengah dikebut pengerjaannya. Guna memastikan kelancaran proyek, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meninjau langsung area konstruksi dari Stasiun Sawah Besar hingga Stasiun Harmoni. Langkah ini menegaskan keseriusan pemerintah pusat dalam mengawal pembangunan infrastruktur vital di ibu kota.
Hingga saat ini, kemajuan fisik keseluruhan proyek MRT Fase 2A telah menyentuh angka 59 persen. Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat memaparkan bahwa proyek ini terbagi menjadi dua segmen utama. Segmen 1 yang melayani rute Bundaran HI hingga Monas menunjukkan perkembangan paling pesat dengan capaian 80,47 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2027. Sementara itu, Segmen 2 yang menghubungkan Harmoni hingga Stasiun Kota baru mencapai 51,04 persen. Rute ini diproyeksikan baru akan tersambung sepenuhnya dan mulai melayani publik pada akhir tahun 2029 di bawah koordinasi Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Penyelesaian Fase 2 ini menjadi sangat krusial mengingat tingginya volume pengguna jasa MRT Jakarta. Sebagai gambaran, MRT Fase 1 rute Lebak Bulus-Bundaran HI saat ini telah melayani sekitar 47 juta penumpang per tahun. Kebutuhan mobilitas warga yang tinggi juga tecermin dari data perjalanan awal tahun ini, di mana pada periode Januari hingga Maret 2026, MRT Jakarta telah melayani lebih dari 11,5 juta pelanggan. Kehadiran Fase 2 diharapkan mampu memecah konsentrasi kepadatan lalu lintas di koridor utama Jakarta.
Aturan Pembatasan Barang Bawaan Penumpang Luar Negeri Bea Cukai, Belajar dari Kasus Kartu Pokemon

Di sisi lain, rencana pembangunan transportasi publik MRT Jakarta Fase 2 ini menghadirkan dinamika tersendiri jika dibandingkan dengan rencana pengembangan koridor barat-timur atau Fase 3. Jika proyek Fase 2 didanai sepenuhnya melalui mekanisme publik untuk menghubungkan pusat kota, Fase 3 (Cikarang-Balaraja) lebih menekankan pada kemitraan strategis dengan sektor swasta guna mengembangkan kawasan penyangga. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan PT Jababeka Tbk pada 31 Maret 2022 untuk pembangunan jalur sepanjang koridor tersebut dan pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD).
Langkah pengembangan TOD di wilayah penyangga ini didukung oleh regulasi nasional. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub memberikan legitimasi bagi posisi TOD di Kota Jababeka berdasarkan rekomendasi teknis dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek. Sebelumnya pada tahun 2019, BPTJ Kemenhub juga telah mengeluarkan lima rekomendasi titik TOD prioritas dari total 54 titik di Jabodetabek, yang meliputi Dukuh Atas, Grandhika City di Bekasi Timur, Cikarang-Jababeka di Bekasi, Gunung Putri di Bogor, serta Rawa Buntu di Tangerang.
Perkembangan Pembangunan Infrastruktur Dasar IKN Nusantara

Menurut masterplan yang dipaparkan oleh Managing Director Developer Kota Jababeka, Marcus Lee, stasiun MRT di wilayah tersebut nantinya akan ditempatkan di kawasan Correctio Jababeka. Kawasan komersial ini dirancang khusus sebagai inkubator teknologi digital, pusat bagi perusahaan rintisan atau startup, serta ruang pamer teknologi industri 4.0. Untuk mendukung ekosistem baru ini, pusat perbelanjaan seperti Plaza Indonesia Jababeka dan AEON Supermarket juga direncanakan akan segera dibangun di dekat area pengembangan tersebut. Integrasi antara transportasi massal dan pusat pertumbuhan ekonomi baru ini diharapkan mampu menciptakan pola mobilitas yang lebih efisien di masa depan.






