Sebanyak 205 sekolah di 18 provinsi mendorong siswa menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif melalui Program Generasi Trakindo 2026. Program yang mengusung tema "Sekolah Ramah Anak" ini menerapkan pendekatan Challenge Based Learning (CBL). Melalui metode tersebut, para siswa diajak untuk aktif mengidentifikasi persoalan sehari-hari di sekolah mereka dan merumuskan solusi secara mandiri. Hingga tahun 2026, program ini tercatat telah menjangkau 205 sekolah yang terdiri dari 30 SDN dan SMPN mitra serta 175 sekolah imbas di 18 provinsi. Sejak dimulai pada tahun 2021, program ini telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan lingkungan sekitar.
Salah satu contoh inovasi datang dari para siswa di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin. Mereka mengembangkan sebuah media pembelajaran berbasis permainan edukatif yang dinamakan "Papan Kompas" (Kontrol Mulut Pastikan Sopan). Alat ini dirancang untuk membantu siswa mengendalikan ucapan mereka melalui sistem penghargaan dan konsekuensi. Ide pembuatan Papan Kompas ini terinspirasi dari papan perkalian dan dikembangkan dengan konsep petualangan agar lebih menarik serta mudah dipahami oleh siswa lainnya. Perwakilan kelompok siswa dari sekolah tersebut, Nur Fazrian, menyatakan bahwa inovasi ini mulai membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman. Guru pendamping mereka, Anugrah Mitria Sari, menambahkan bahwa proses pembuatan inovasi ini membuat para siswa menjadi lebih berani dalam mengenali sekaligus menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Aturan Pembatasan Barang Bawaan Penumpang Luar Negeri Bea Cukai, Belajar dari Kasus Kartu Pokemon

Inovasi lainnya dikembangkan oleh siswa di SMP Negeri 1 Lubuk Pakam melalui aplikasi bernama "Perisai Pintar". Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk menyampaikan cerita dan keluhan mereka secara anonim kepada guru bimbingan konseling (BK). Berdasarkan hasil observasi, sekitar 60% siswa memberikan dukungan terhadap pengembangan aplikasi Perisai Pintar ini. Angelika Patresia Gultom, yang mewakili siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, menuturkan bahwa Perisai Pintar telah menjadi ruang yang lebih nyaman bagi siswa untuk bersuara. Sementara itu, Mennusuriani Saragih selaku guru BK di sekolah tersebut menilai bahwa pendekatan CBL ini sangat membantu siswa dalam belajar bekerja sama untuk mencari solusi atas kendala yang ada di sekolah.
Pihak PT Trakindo Utama selaku penyelenggara memberikan dukungan penuh terhadap keberlangsungan program ini. Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing, menjelaskan bahwa memberikan ruang kepada siswa untuk memahami persoalan dan mencari solusi secara mandiri dapat menumbuhkan kepedulian serta kepercayaan diri mereka. Untuk mendukung proses kreatif tersebut, Trakindo menyediakan pendampingan, fasilitas riset, pendanaan, pelatihan, hingga dukungan material bagi sekolah dan siswa yang terlibat.
Progres Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A dan Rencana Pengembangan TOD di Kota Jababeka

Di samping itu, berbagai upaya lain untuk memajukan dunia pendidikan juga terus berjalan. Pendiri Atelier of Minds, Chatrine Siswoyo, menekankan pentingnya pelatihan bagi guru guna mendukung perkembangan anak didik. Sementara di wilayah Rempang, Wali Kota Batam Amsakar Achmad telah memulai pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi Merah Putih. Semangat nasionalisme di lingkungan sekolah juga digaungkan melalui penampilan penyanyi cilik Annisa Dalimunthe dan drummer Ikmal Tobing yang sukses menutup tur sekolah "Merah Putih Gemilang" di Jakarta dalam rangka menyambut HUT RI ke-81.






