Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk melarang ekspor mineral mentah, khususnya bijih bauksit dan konsentrat tembaga. Penegasan ini disampaikan Bahlil setelah menghadiri acara peluncuran dan bedah buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah strategis pemerintah untuk mendorong transformasi ekonomi melalui pemrosesan sumber daya alam di dalam negeri.
Langkah mempertahankan larangan ekspor ini berkaca pada kesuksesan hilirisasi nikel sebelumnya. Pelarangan ekspor bijih nikel pada periode 2018-2019 terbukti meningkatkan nilai ekspor secara signifikan. Pada periode sebelum larangan ketat diterapkan, nilai ekspor nikel Indonesia hanya berada di angka 3,3 miliar dolar AS. Angka tersebut kemudian melonjak hingga sepuluh kali lipat menjadi 34 miliar dolar AS pada tahun 2024. Melihat kesuksesan tersebut, pemerintah kini tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor komoditas tambang mentah lainnya, termasuk timah, yang kajian awalnya telah dimulai sejak Februari 2026.
Implementasi kebijakan hilirisasi komoditas tembaga dan bauksit Indonesia diperkuat dengan peresmian peletakan batu pertama (groundbreaking) 13 proyek strategis nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Salah satu proyek utama yang mulai dibangun adalah fasilitas hilirisasi tembaga dan emas oleh MIND ID di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur. Di kawasan ini, MIND ID melalui Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral Tedy Badrujaman merencanakan pembangunan fasilitas Brass Mill, Brass Cup, serta manufaktur logam mulia yang memanfaatkan lumpur anoda (anode slime) sebagai bahan baku pemurnian emas murni dalam negeri.
Penyesuaian Jadwal Perjalanan, Aturan Tarif, dan Evaluasi Operasional LRT Jabodebek

Kawasan industri pendukung hilirisasi ini juga ditunjang oleh infrastruktur logistik yang memadai. PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola KEK Gresik yang dipimpin oleh Bambang Soetiono, memastikan aksesibilitas kawasan terhubung langsung dengan Jalan Raya Daendels-Manyar. Selain itu, terdapat jalur khusus dengan lebar right of way (ROW) mencapai 80 meter yang menghubungkan area pabrik langsung ke pelabuhan laut dalam JIIPE dengan jarak sekitar 5 kilometer.
Dampak nyata dari pembangunan smelter tembaga dan bauksit di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah mulai terlihat. Berdasarkan riset Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) yang dipimpin oleh Nur Kholis selaku Ketua Tim Pelaksana, hilirisasi memberikan kontribusi positif pada aspek sosial dan ekonomi daerah. Penelitian bertajuk "Kajian Dampak Hilirisasi Industri Tambang terhadap Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan: Tembaga, Bauksit, dan Pasir Silika" ini mencatat adanya peningkatan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di wilayah lingkar industri seperti Gresik, Sumbawa Barat, Mempawah, dan Batang.
Pemerintah Godok Aturan Turunan UU PDP di Tengah Desakan Penguatan Sanksi dan Otoritas Independen

Selain pendidikan, indikator Umur Harapan Hidup (UHH) dan penurunan angka stunting di daerah hilirisasi juga menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan daerah yang bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) serta Pajak Asli Daerah (PAD) kini dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur kesehatan seperti klinik






