Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerja sama dengan Perhimpunan Kebayaku sukses menyelenggarakan sebuah perhelatan budaya yang bertajuk "Kharisma Batavia Menuju Jakarta". Acara yang diselenggarakan di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta tersebut dihadiri secara langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Selain dihadiri oleh jajaran pemimpin daerah DKI Jakarta, acara ini juga turut dihadiri oleh para duta besar dari berbagai negara sahabat yang diundang untuk menyaksikan jalannya kegiatan kebudayaan tersebut.
Perhelatan budaya "Kharisma Batavia Menuju Jakarta" ini diselenggarakan sebagai bagian penting dari rangkaian persiapan dalam menyambut hari ulang tahun atau hari jadi ke-500 Kota Jakarta yang akan diperingati pada tahun 2027 mendatang. Melalui kegiatan kolaboratif ini, pemerintah daerah berupaya untuk menonjolkan nilai-nilai tradisi dan kebudayaan lokal di tengah perkembangan kota yang terus melaju menuju kota global.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan perhatian khusus pada arah perkembangan kota. Pramono menyatakan secara tegas bahwa pembangunan Kota Jakarta ke depan tidak boleh hanya berorientasi pada kemajuan infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, aspek kebudayaan dan nilai-nilai warisan leluhur juga harus mendapatkan ruang yang sama besarnya dalam proses pembangunan daerah.
Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai Capai 97,99 Persen

Salah satu simbol kebudayaan yang disorot dan didorong penguatannya oleh Pramono Anung adalah kebaya. Gubernur menjelaskan bahwa kebaya ini merupakan warisan budaya takbenda yang sudah mendapatkan pengakuan resmi dari badan dunia UNESCO. Pramono juga memberikan penekanan khusus pada pentingnya pelestarian kebaya lintas etnis yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Upaya pelestarian ini mencakup berbagai jenis kebaya, mulai dari kebaya khas Betawi, kebaya Enci, kebaya Jawa, kebaya Madura, hingga ragam kebaya lainnya yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Nusantara.
Sebagai langkah konkret untuk mendukung pelestarian seni dan budaya ini, Pemprov DKI Jakarta telah merancang pemanfaatan berbagai fasilitas publik. Pramono Anung memaparkan bahwa ruang-ruang publik strategis di Jakarta akan dipersiapkan secara aktif untuk menggelar berbagai pertunjukan seni serta budaya tradisional. Beberapa titik lokasi penting yang telah dipersiapkan untuk kegiatan ini meliputi area Balai Kota, kawasan bersejarah Kota Tua, Lapangan Banteng, hingga kawasan Maramis.
Pemprov DKI Targetkan Penataan 50 RW Kumuh pada 2027

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Kebayaku Nunun Daradjatun turut menyampaikan pandangannya mengenai makna pembangunan perkotaan. Nunun mengutarakan bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh bangunan fisik seperti gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan raya yang membentang. Menurutnya, sebuah kota pada hakikatnya dibangun oleh sejarah panjang yang melatarbelakanginya, nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta kebudayaan yang tetap hidup dan dipelihara di tengah masyarakat Jakarta dan Betawi.






