Upaya untuk memenuhi kebutuhan energi bersih di Indonesia terus ditingkatkan melalui berbagai kolaborasi strategis. Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan melibatkan sektor swasta secara aktif dalam pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan. Terkait hal ini, PT PLN (Persero) secara masif merangkul pihak swasta untuk ikut serta mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Kemitraan strategis dengan sektor swasta ini direncanakan akan berlangsung dalam jangka panjang hingga tahun 2034 mendatang.
Langkah kolaboratif ini sejalan dengan rencana pengembangan ketenagalistrikan nasional yang telah disusun secara terperinci. Berdasarkan dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode tahun 2025 hingga 2034, total proyek PLTA dan PLTM yang direncanakan mencapai 315 proyek. Jika seluruh proyek ini berhasil diselesaikan, total kapasitas pembangkit listrik berbasis hidro tersebut akan mencapai 11.689,99 megawatt (MW) atau setara dengan 11,7 gigawatt (GW). Dari keseluruhan target tersebut, porsi terbesar akan diserahkan kepada pengembang swasta.
Keterlibatan pihak swasta atau Independent Power Producer (IPP) dalam proyek energi hijau ini sangat dominan. Dari total 315 proyek hidro yang direncanakan dalam RUPTL, pengembang swasta mendapatkan alokasi untuk menggarap sebanyak 262 proyek. Secara rinci, pihak swasta dialokasikan untuk mengembangkan 48 proyek PLTA dengan kapasitas daya mencapai 9.441 MW. Selain itu, untuk proyek PLTM yang berskala lebih kecil, pihak swasta dipercaya untuk membangun 214 proyek dengan total kapasitas mencapai 1.110,16 MW.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sementara itu, PT PLN (Persero) beserta entitas subholding-nya juga tetap mengambil peran dalam pembangunan fisik sebagian proyek hidro tersebut. PLN sendiri secara mandiri akan mengembangkan 7 proyek PLTA dengan total kapasitas sebesar 361 MW, serta 20 proyek PLTM dengan kapasitas daya sebesar 51,15 MW. Di sisi lain, subholding milik PLN juga mendapatkan porsi pengembangan, yaitu sebanyak 17 proyek PLTA dengan kapasitas total 698,1 MW serta 9 proyek PLTM dengan kapasitas daya mencapai 28,58 MW.
Dalam skema pengembangan ini, PLN memosisikan diri sebagai enabler atau penyedia sarana pendukung utama. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, pada hari Rabu (5/8). Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Indonesia Hydropower Summit yang diselenggarakan oleh Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI). Acara ini berlangsung di kantor pusat PLN yang berlokasi di Jakarta Selatan. Sebagai enabler, tugas utama PLN adalah menyiapkan infrastruktur jaringan transmisi yang memadai untuk menyalurkan energi listrik dari pembangkit swasta tersebut menuju jaringan listrik nasional.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Meskipun peta jalan pengembangan energi hidro ini telah disusun, realisasi proyek-proyek tersebut membutuhkan proses yang panjang dan bertahap. Setiap pembangunan proyek hidro harus melewati sejumlah tahapan krusial sebelum akhirnya dapat beroperasi secara komersial. Tahapan-tahapan penting tersebut meliputi pelaksanaan studi kelayakan, pengurusan perizinan yang diperlukan, proses lelang proyek, pembahasan perjanjian pembelian listrik atau Power Purchase Agreement (PPA), hingga akhirnya mencapai tahap financial closing. Keberhasilan penyelesaian seluruh tahapan ini sangat menentukan tercapainya target kapasitas 11,7 GW pada tahun 2034.






