Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berinvestasi dan mengamankan aset finansial mereka terus mengalami peningkatan yang signifikan. Memasuki tahun 2026, strategi diversifikasi dengan membangun portofolio multi-aset semakin diminati untuk meminimalkan risiko kerugian investasi. Di tengah dinamika pasar, instrumen reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap umumnya memiliki pergerakan harga yang cenderung lebih stabil jika dibandingkan dengan instrumen lain seperti saham maupun aset kripto. Meskipun menawarkan kestabilan, para investor tetap harus memperhatikan berbagai faktor biaya sebelum membeli produk reksadana. Salah satu biaya yang penting untuk diperhatikan adalah expense ratio, yaitu biaya tahunan yang dipotong secara otomatis dari Net Asset Value (NAB) reksadana tersebut.








