Dunia pasar modal Indonesia kembali menyaksikan kolaborasi strategis bernilai fantastis. Konglomerasi yang melibatkan Prajogo Pangestu melalui PT Petrosea Tbk (PTRO) dan Hapsoro lewat PT Singaraja Putra Tbk (SINI) kini memasuki babak baru yang lebih erat. Alih-alih sekadar transaksi jual beli aset biasa, kedua kubu merancang sebuah skema bisnis sirkular yang saling menguntungkan. Langkah taktis ini tidak hanya mengubah struktur kepemilikan saham, tetapi juga mengunci kontrak operasional jangka panjang yang menjamin keberlangsungan bisnis kedua belah pihak di sektor pertambangan.
Aksi korporasi ini bermula dari akuisisi 99,995 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) oleh SINI dari tangan Petrosea dengan nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun. Menariknya, aliran dana tidak berhenti di situ. Pada tanggal 23 Juli 2026, Petrosea justru masuk menjadi salah satu pemegang saham signifikan di SINI. Emiten tambang tersebut membelanjakan modalnya untuk memborong 239,105 juta lembar saham SINI dengan harga pelaksanaan Rp5.000 per saham. Transaksi yang bertujuan untuk investasi ini mendongkrak kepemilikan saham Petrosea di SINI secara drastis, dari yang semula hanya 0,25 persen atau 1,212 juta lembar menjadi 19,88 persen.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Hubungan erat ini semakin diperkuat dengan kerja sama operasional di lapangan. Bersamaan dengan transaksi saham tersebut, dua anak usaha SINI, yakni PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), resmi menggandeng Petrosea sebagai kontraktor jasa pertambangan. Petrosea dipercaya untuk menggarap proyek pengupasan lapisan penutup tanah serta penambangan batu bara sepanjang umur tambang berjalan. Nilai kontrak raksasa ini diperkirakan menembus angka Rp57 triliun, yang terbagi atas proyek bersama PBC senilai Rp45,57 triliun dan proyek bersama CBP senilai Rp11,48 triliun.
Di samping masuknya Petrosea, dinamika kepemilikan saham SINI juga diramaikan oleh kehadiran investor lainnya pada hari yang sama. Autum Prima Indonesia menambah porsi kepemilikannya dengan membeli 60 juta saham, sehingga setelah aksi korporasi tersebut kepemilikannya tercatat menjadi 16,99 persen. Selain itu, Ever Grace International Trading Limited kini menguasai 90 juta saham atau setara 7,48 persen, sementara PT Deli Indonesia Raya mengamankan kepemilikan sebesar 2,49 persen melalui pembelian 30 juta saham. Berdasarkan data registrasi efek per akhir Juni 2026, pemegang manfaat akhir dari SINI secara individu meliputi Hendrikus Yulidar Putra Karim sebesar 30 persen, Limas Ananto sebesar 15,49 persen, dan Hapsoro sebesar 9 persen.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Melalui integrasi bisnis ini, SINI berhasil memperluas portofolio pertambangan batu baranya dengan dukungan penuh dari Petrosea sebagai mitra strategis sekaligus pemegang saham baru. Bagi Petrosea, pelepasan kepemilikan KMS tidak berarti kehilangan kendali operasional, melainkan bertransformasi menjadi kolaborasi jangka panjang yang memberikan kepastian pendapatan dari jasa pertambangan bernilai jumbo. Pola kemitraan semacam ini menunjukkan bagaimana para pemain besar di industri energi tanah air saling bersinergi untuk memperkuat posisi pasar masing-masing di tengah ketatnya persaingan industri.






