PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatatkan produksi minyak dan gas bumi sebesar 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) hingga akhir Semester I 2026. Capaian dari Subholding Upstream Pertamina ini menjadi pilar penting dalam upaya PT Pertamina (Persero) menjaga ketahanan energi nasional. Secara rinci, produksi tersebut terdiri atas minyak sebesar 459 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas yang mencapai 2.756 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Langkah penguatan sektor energi ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Kepala Negara sebelumnya menegaskan bahwa energi merupakan salah satu sektor paling strategis bagi keberlanjutan hidup sebuah negara, bersanding erat dengan ketahanan pangan. Guna merespons kebutuhan tersebut, Pertamina menerapkan Dual Growth Strategy yang berfokus pada dua pilar utama, yaitu memaksimalkan bisnis yang sudah ada (Maximizing Legacy Business) serta membangun bisnis rendah karbon (Building Low Carbon Business).
Untuk menopang pilar bisnis hulu, PHE bergerak aktif melakukan berbagai kegiatan operasional sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Perusahaan tercatat telah merampungkan pengeboran 278 sumur eksploitasi, melaksanakan 601 kegiatan workover, serta menyelesaikan 13.870 kegiatan well service. Upaya pencarian cadangan baru juga terus digenjot. Hingga Juni 2026, PHE berhasil menyelesaikan pengeboran 9 sumur eksplorasi, melakukan survei seismik 2D sepanjang 189 kilometer, dan survei seismik 3D seluas 2.848 kilometer persegi.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Rangkaian aktivitas eksplorasi tersebut memberikan hasil yang signifikan bagi ketersediaan energi masa depan Indonesia. Pertamina berhasil mengamankan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE) serta tambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 24,9 MMBOE. Selain mengandalkan sumur domestik, Pertamina juga memperkuat pasokan minyak mentah nasional lewat program Bring Barrel Home. Program ini dirancang khusus untuk mengangkut minyak mentah hasil produksi dari aset-aset hulu Pertamina di luar negeri kembali ke tanah air.
Di sisi hilir dan pengolahan, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengoperasikan enam kilang minyak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keenam fasilitas tersebut adalah Kilang Dumai di Riau, Kilang Plaju di Sumatera Selatan, Kilang Balongan di Jawa Barat, Kilang Cilacap di Jawa Tengah, Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, dan Kilang Kasim di Papua Barat Daya. Secara akumulatif, kapasitas operasional keenam kilang ini mampu mengolah minyak mentah hingga 1,1 juta barel per hari. Pertamina juga tengah menggarap proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan untuk meningkatkan kualitas bahan bakar yang diproduksi agar setara dengan standar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan mandatori B50 mulai awal Juli, Pertamina terus mempercepat transisi menuju energi bersih. Langkah ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2022 melalui peluncuran Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan merek dagang Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD). Inovasi ramah lingkungan ini kemudian diperluas pada tahun 2025 dengan meluncurkan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (Pertamina SAF). Bahan bakar khusus pesawat terbang ini diproduksi dari limbah minyak goreng bekas atau used cooking oil (UCO) dan diklaim mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen jika dibandingkan dengan avtur fosil konvensional. Seluruh teknologi yang digunakan untuk memproduksi Pertamina SAF ini dikembangkan secara mandiri oleh para insinyur dalam negeri.






