Sebuah era penting dalam dunia perbankan sentral Indonesia resmi berakhir. Perry Warjiyo, sosok yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya di Bank Indonesia, memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pengunduran diri ini menandai berakhirnya masa bakti panjang seorang bankir senior yang telah mengabdi selama lebih dari empat dekade di lembaga penjaga stabilitas moneter negara tersebut.
Keputusan pengunduran diri tersebut disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto pada hari Minggu (26/7). Dalam keterangan resminya pada hari Senin (27/6), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden telah menerima permohonan tersebut dengan penuh rasa hormat dan apresiasi yang tinggi atas dedikasi Perry selama tujuh tahun memimpin Bank Indonesia. Guna menjaga kesinambungan kepemimpinan di bank sentral, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai penjabat sementara hingga ditetapkannya keputusan lebih lanjut melalui keputusan presiden.
Perjalanan Perry di Bank Indonesia bukanlah pencapaian instan. Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tahun 1959 ini merintis kariernya dari bawah sejak tahun 1984, sesaat setelah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada 1982. Rasa haus akan ilmu membawanya terbang ke Amerika Serikat, di mana ia berhasil meraih gelar Master pada 1989 dan Ph.D pada 1991 dari Iowa State University. Kombinasi latar belakang akademis yang kuat dan pengalaman lapangan membentuk karakternya sebagai perumus kebijakan moneter yang tangguh.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Sebelum menduduki kursi nomor satu di Bank Indonesia pada 23 Mei 2018, Perry telah melewati berbagai pos strategis. Ia pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur periode 2013-2018 mendampingi Agus Martowardojo, serta memimpin Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. Reputasinya tidak hanya diakui di dalam negeri; Perry juga pernah dipercaya menjadi Direktur Eksekutif di Dana Moneter Internasional (IMF) pada periode 2007-2009, mewakili kepentingan 13 negara anggota di Asia Tenggara.
Selama tujuh tahun memimpin sebagai Gubernur, Perry dikenal dengan pendekatan kebijakan ganda yang menyeimbangkan antara dorongan pertumbuhan ekonomi (pro-growth) dan penjagaan stabilitas (pro-stability). Di bawah arahannya, Bank Indonesia aktif bersinergi dengan pemerintah untuk meminimalisasi dampak ketidakpastian global terhadap ekonomi domestik. Salah satu warisan terbesarnya yang kini dirasakan langsung oleh jutaan masyarakat Indonesia adalah digitalisasi sistem pembayaran melalui peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada tahun 2019.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Keputusan mundurnya Perry Warjiyo meninggalkan ruang besar yang harus segera diisi di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergejolak. Namun, fondasi kebijakan moneter yang kokoh serta transformasi sistem pembayaran digital yang telah ia bangun selama 42 tahun pengabdian akan tetap menjadi pilar penting bagi perjalanan Bank Indonesia di masa-masa mendatang.






