Peta kepemimpinan moneter Indonesia mengalami perubahan besar. Perry Warjiyo, sosok yang selama tujuh tahun terakhir mengawal stabilitas rupiah dan kebijakan moneter nasional, memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pengunduran diri figur senior bank sentral ini terhitung resmi sejak hari Senin, 27 Juli, menandai berakhirnya sebuah era penting dalam menavigasi perekonomian domestik di tengah ketidakpastian global.
Kabar mengejutkan ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam sebuah konferensi pers yang digelar di markas Bank Indonesia pada Senin pagi. Menurut penjelasan Prasetyo, pihak Istana telah menerima dokumen resmi pengunduran diri tersebut satu hari sebelumnya. Surat yang diajukan oleh Perry ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, yang kemudian segera merespons permohonan tersebut dengan memberikan restu serta apresiasi mendalam.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan Perry selama memimpin Bank Indonesia. Selama tujuh tahun pengabdiannya, Perry dinilai telah memberikan tenaga dan pikiran terbaiknya untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Penghargaan setinggi-tingginya diberikan pemerintah kepada pria asal Sukoharjo ini atas kepemimpinannya yang kokoh melewati berbagai fase kritis perekonomian.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Jejak kepemimpinan Perry di Bank Indonesia terbagi dalam dua periode penting. Ia pertama kali dipercaya mengemban amanah sebagai orang nomor satu di bank sentral pada periode 2018 hingga 2023. Kinerjanya yang dinilai solid dalam menjaga inflasi dan nilai tukar membuat dirinya kembali terpilih untuk masa jabatan kedua, yakni periode 2023 hingga 2028. Namun, perjalanan di periode kedua ini harus terhenti di tengah jalan menyusul keputusan pengunduran dirinya.
Lahir di Sukoharjo pada tahun 1959, Perry Warjiyo merupakan seorang akademisi sekaligus praktisi moneter dengan latar belakang pendidikan yang sangat kuat. Ia menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1982. Hasrat belajarnya yang tinggi membawa Perry terbang ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan di Iowa State University, tempat ia meraih gelar Master pada tahun 1989 dan gelar Ph.D pada tahun 1991.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Sebelum menduduki posisi puncak sebagai Gubernur, Perry telah merintis karier yang panjang dan berliku di lingkungan internal Bank Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur pada periode 2013 hingga 2018. Jauh sebelum itu, pada rentang tahun 2009 sampai 2013, ia memegang peran krusial sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional, sekaligus memimpin Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter sebagai Direktur Eksekutif. Pengalaman komprehensif inilah yang membentuk karakter kepemimpinannya yang sangat dihormati di kalangan pelaku pasar.






