Pasar keuangan dalam negeri dikejutkan oleh kabar mendadak dari pucuk pimpinan bank sentral pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah langsung mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyusul keputusan mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI). Sentimen negatif dari dinamika internal ini dengan cepat direspons oleh para pelaku pasar, memaksa mata uang Garuda kembali terperosok ke zona merah hingga melampaui ambang batas psikologis yang cukup sensitif, yakni di atas level Rp 18.000 per dolar AS.
Kepastian mengenai berakhirnya masa jabatan Perry Warjiyo diumumkan secara resmi oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers yang digelar di Gedung BI, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7/2026). Prasetyo menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri resmi dari Perry pada hari Minggu (26/7/2026). Pengumuman yang terkesan mendadak ini seketika menjadi katalis utama yang memicu ketidakpastian di pasar valuta asing domestik sejak perdagangan dibuka.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Guna menghindari kekosongan kepemimpinan dan menjaga arah kebijakan moneter negara, posisi tertinggi di bank sentral tersebut segera dialihkan secara otomatis. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk untuk mengemban tanggung jawab sebagai Pejabat Gubernur Sementara. Dalam pernyataan resminya, Destry menegaskan komitmen institusi untuk tetap mengawal stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga ketahanan sistem keuangan nasional demi menyokong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, serta menjaga iklim kondusif bagi sektor riil.
Meskipun ada jaminan keberlangsungan tugas dari kepemimpinan transisi tersebut, reaksi pasar pada hari Senin kemarin menunjukkan kecemasan yang nyata. Sejak perdagangan pagi dimulai, rupiah langsung terkapar dan bergerak di kisaran Rp 17.900-an. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.30 WIB, mata uang Paman Sam sudah bertengger di posisi Rp 17.966, atau naik tipis 3 poin (0,02 persen). Tekanan jual terhadap rupiah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda sepanjang siang hari, melainkan terus terakumulasi hingga akhirnya menembus level psikologis baru.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Memasuki sore hari, pelemahan rupiah kian tidak terbendung akibat tekanan global dan domestik yang memuncak. Data Bloomberg mencatat bahwa pada pukul 14.59 WIB, dolar AS menguat hingga 46,00 basis poin atau 0,26 persen ke level Rp 18.009. Tren pelemahan ini terus berlanjut hingga malam hari. Berdasarkan data Investing per pukul 18.12 WIB, nilai tukar dolar AS bahkan melonjak 130,4 basis poin atau 0,73 persen ke posisi Rp 18.038, setelah bergerak dalam rentang harian Rp 17.926 hingga Rp 18.038. Di sisi lain, data Google Finance pada pukul 18.24 WIB (11.24 UTC) juga mengonfirmasi posisi dolar AS yang kokoh di level Rp 18.033, menegaskan kembalinya keperkasaan mata uang tersebut atas rupiah.






