Pemerintah Indonesia menyiapkan Paket Stimulus Ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II-2026. Langkah taktis ini diambil di tengah performa ekonomi nasional yang kokoh, di mana produk domestik bruto pada triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan (yoy). Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas level 5 persen selama lima triwulan berturut-turut.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai 5,45 persen (c-to-c). Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang kuat di tengah ketidakpastian global, terutama jika dibandingkan dengan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh sebesar 3 persen pada tahun ini. Berdasarkan sebaran wilayah, Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 6,10 persen. Sementara itu, Pulau Jawa tetap menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan 5,65 persen dan berkontribusi hingga 56,47 persen terhadap PDB nasional.
Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh paling progresif sebesar 10,60 persen, diikuti oleh sektor konstruksi yang tumbuh 6,68 persen. Industri pengolahan juga terus menunjukkan kinerja positif dengan tumbuh 4,52 persen serta menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDB nasional, yakni mencapai 18,50 persen. Kondisi ini didukung oleh indikator makro yang terjaga, seperti inflasi Juli 2026 di level 2,88 persen yoy, PMI Manufaktur yang ekspansif di level 50,2, serta Indeks Keyakinan Konsumen yang kokoh pada level 117,8.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Di sektor investasi, realisasi sepanjang semester I-2026 menembus Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Capaian ini setara dengan 49,5 persen dari target investasi tahunan yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun. Pemerataan investasi juga menunjukkan hasil positif dengan realisasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen dari total nasional, sementara investasi pada sektor hilirisasi menyentuh Rp300,1 triliun. Aktivitas penanaman modal ini berhasil menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung, naik sekitar 15 persen dibandingkan semester I-2025. Perbankan turut menopang ekspansi ini dengan penyaluran kredit yang tumbuh 12,67 persen pada Juni 2026, didorong oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 24,90 persen.
Dampak dari pertumbuhan ekonomi yang stabil ini mulai dirasakan pada indikator sosial dan ketenagakerjaan. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari populasi, berkurang 430 ribu orang dibandingkan posisi September 2025. Di bidang ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang dengan penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 522 ribu orang sepanjang Februari hingga Mei 2026. Jumlah pengangguran juga dilaporkan menyusut 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka turun ke level 4,65 persen.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Untuk mengawal kinerja positif ini hingga akhir tahun, paket stimulus Rp26,34 triliun disiapkan dengan fokus menjaga daya beli masyarakat. Program ini mencakup penyaluran bantuan pangan bagi 33,24 juta penerima manfaat serta pemberian diskon tarif kereta api dan angkutan laut sebesar 30 persen. Selain itu, pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga bahan bakar minyak hingga akhir tahun 2026, meskipun rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada semester I berada di level US$90,46 per barel. Kepercayaan investor global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia juga tetap stabil, tecermin dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, serta diperolehnya peringkat AAA dari lembaga pemeringkat Tiongkok untuk penerbitan Panda Bond.






